Selasa, 02 Februari 2010

KISAH WAYANG AJEN DI SPAIN (bag. 9)

Catatan Pandu Radea  dari Festival International de Titeres de Canarias


 TROUBLEMAKER


          Filia Agrimanaki banyak membantu kami di Tenerife. Gadis Yunani ini betul-betul enerjik. Kendati terlihat lelah dengan padatnya pertunjukan, perhatian kepada tim Wayang Ajen Indonesia sangat besar. Bahkan menurutnya,  hanya Wayang Ajen satu-satunya tim yang dibiayai sepenuhnya. Baik tiket international, local, maupun seluruh akomodasi selama di Spanyol.  Sementara grup lainnya hanya akomodasi saja, tiket ditanggung sendiri. Penghargaan bagi tim Indonesia merupakan dampak dari kiprah wayang ajen di dunia international. Fransisco Brito adalah orang yang merekomendasikan Wayang Ajen kepada Domingo Borges untuk tampil di Tenerife setelah dirinya melihat pertunjukan Wayang Ajen di Festival International Puppet & Mime of Cyprus   tahun 2008.

          Perhatian mereka tidak kami sia-siakan, profesionalisme harus kami tunjukan. On time adalah prinsif utama. Setiap jadwal dan waktu yang telah ditentukan oleh panitia tidak pernah kami abaikan. Masalah ketepatan waktu adalah sesuatu yang vital. Terlambat 5 menit saja akan ditinggalkan. Untuk itu Kendati harus mengorbankan breakfast dan secangkir kopi panas di pagi hari, tim selalu standby di lokasi yang ditentukan 1 jam lebih awal dari jadwal. Kedisiplinan yang kami tunjukan jelas membuat panitia senang.

          Tanggal 29 merupakan hari yang paling sibuk. kami harus pentas 3 kali. Pertunjukan pertama adalah di El Rosario ini pertunjukan di pagi hari dan bertempat di sebuah gedung olah raga. Akustik gedung yang bergaung adalah kendala pertama yang harus disiasati, setelah itu, memikirkan gambar motekar yang tidak dapat menampilkan efek bayangan seperti biasanya.  Berhubung seluruh penonton adalah anak-anak maka kami juga tidak terlalu mengeksplor adegan pertempuran dan perkelahian secara verbal. Karena  anak-anak disana umumnya dijauhkan dari hal-hal yang berbau kekerasan.

          Tavip Lampung yang yang selalu dibelakang layar akhirnya bermain di depan layar. Dan itu cukup efektif untuk memperlihatkan bagaimana gambar motekar dimainkan. Satu-satunya kendala adalah soundsystem. Dari sekian banyak gending wayang seperti karatagan, ayak-ayakan,  dll,yang seharusnya dimainkan sebagian besar mengalami distorsi bunyi. Hanya ilustrasi Bali, tarawangsa, gending Sriwijaya dan Cirebonan yang selamat. Tekhnikal error terjadi saat crew soundsystem tidak memahami  music yang telah diolah menjadi data digital.  Alat untuk menyambungkan 2 jak stereo dari laptop tidak mereka pasang, sehingga hasilnya membuat bunyi menjadi pecah. Terjadinya hal itu  disebabkan misskomunikasi.  Pasalnya bahasa Inggris mereka lebih parah dari Dodong Kodir yang hanya tahu 4 kata saja yaitu Yes, good, beautiful dan no problem.

          Itu terjadi saat pagelaran berlangsung. Padahal, pertunjukan tersebut dihadiri oleh wali kota setempat yang namanya sulit untuk ditulis apalagi di lapalkan. Untung Dodong Kodir yang menggarap music secara manual dapat mengantisipasi kondisi tersebut dengan memainkan beberapa alat music ciptaanya.  “No problem” kata dodong.  Toh Anak-anak tetap ceria dan gembira.  Mereka sangat  senang dengan pertunjukan kami. Lagu Manuk Dadali, gundul-gundul Pacul dan Kuntul Flamenco (ciptaan Dodong) selalu berusaha diikuti oleh seluruh penonton. Marri Evana, coordinator acara menyatakan kepuasannya. Biasanya pertunjukan kesenian boneka yang pernah mereka apresiasi jarang ada yang menjalin komunikasi dengan melakukan interaksi secara langsung dengan penonton.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar