Selasa, 02 Februari 2010

KISAH WAYANG AJEN DI SPAIN (Bag.1)

Catatan Pandu Radea dari Festival International de Titeres de Canarias 09

GO TO SPAIN !
 


Spring adalah musim yang indah. Semuanya tampak berwarna warni tatkala bunga-bunga liar bermekaran dan hijau dedaunan menghiasi setiap sudut tanah Eropa. Musim ini adalah musim yang tepat untuk kasmaran. Cerah matahari dan nyanyian beragam unggas mengisi siang yang terasa lebih panjang. Semuanya terlihat serba tersenyum. Pelayan restoran bersenandung kecil menyuguhkan makanan dan minuman terbaiknya, orang-orang tua asyik bernostalgia di taman-taman kota yang teduh, remaja-remaja menampilkan kekenesannya. Terpantul diatas jalan berbatu yang menjerumat gedung-gedung bergaya klasik. Inikah gerangan negeri matador ? 
  
Tak terasa 8 jam lebih terbang di udara. Pesawat Qatar Air bus yang membawa Tim Wayang Ajen betul-betul terasa nyaman. Saya yang menderita penyakit takut ketinggian dan mengalami stress sejak naik pesawat sedikit perlahan lahan mulai melupakan pikiran buruk tentang pesawat terbang yang mogok mesin saat di angkasa. Naïf memang. Namun itulah penyakit yang membuat saya beberapa kali menolak tawaran Wawan Ajen untuk manggung ke luar negri.
         
Penyakit stress saya yang kedua adalah kegugupan saat pemeriksaan di bandara yang ketat dan berlapis-lapis. Beberapa kali saya merasa kikuk saat alat detector memeriksa seluruh tubuh. Kendati Wawan Ajen sudah mensimulasikan serta memberikan gambaran tentang kondisi tersebut sebelumnya namun tetap saja saya merasa katro. Apalagi saat pramugari cantik berdarah arab menanyakan potogan tiket ke Doha (Qatar) kontan saya panic karena tiket itu tidak ada dalam buku paspor yang selalu saya pegang melebihi jimat. Untungnya potongan itu ditemukan, nyelip di plastic jilid paspor dan sayapun bernafas lega tsetelah gugup selama 15 menit. Tak bisa dibayangkan apa jadinya jika potongan paspor itu betul-betul hilang.
          
Jam 22.00 WIB tanggal 23 April, Qatar Air bus tinggal landas. Dodong Kodir dan Tavip Lampung tampak menikmati betul perjalanan ke Spanyol kali ini. Bukan tanpa sebab, peralatan pagelaran wayang yang biasanya lebih dari 100 kg, kini hanya 82 kg. tentu saja itu meringankan tim yang hanya berjumlah 4 orang. untungnya lagi bagasi barang pertunjukan ditanggung sampai di Madrid, sehingga tim tidak kerepotan angkat jungjung setiap mau transit.

Pertama transit adalah di Singapura, negeri ini memang layak disebut sebagai Negara maju. Lantai ruang bandara saja seluruhnya dilapisi karpet tebal, motif elegan dan tentu saja mahal. Entah kapan Bandara Soekarno Hatta akan seperti itu. Di Singapura tim masih merasakan suasana Indonesia. Selain ditempuh hanya dengan setengh jam lamanya, bahasa Indonesia masih dipergunakan.
          
Kami transit di Doha. Dan harus menunggu 7 jam lamanya. Perbedaan waktu Indonesia dan Doha 4 jam lamanya. Selama menunggu, waktu dipergunakan untuk ngobrol ngaler ngidul, ternyata banyak juga orang Indonesia kami temui. Dan hal itu terjadi di ruang berasap alias smoking area. Di tempat itulah secara naluri kami berbincang-bincang. Beberapa bule turut nimbrung karena melihat dandanan kami yang seragam. Kami berdialog terpatah-patah, memahami pertanyaan mereka tentang wayang golek. Ternyata selain yes dan no, bahasa tarzan lebih efektif menjelaskan tentang wayang golek pada mereka.
          
Berkat bantuan Mr. Candra Tanuwijaya, rekan baru yang kami kenal saat menunggu transit, saya dapat mengirim berita ini dari Doha. Bukannya apa-apa, laptop adu milik kang Wawan Ajen yang selalu diagulkan ternyata tidak dapat mengkap wi-fi yang dipancarkan di ruang Bandara. Entah laptopnya yang salah atau memang saya yang gaptek ? yang jelas, saya harus berusaha untuk terus mengirim berita setiap hari. Jika laptop kang wawan tetap macet, maka pinjam adalah jurus terakhir.(sambung)

3 komentar:

  1. Tertima Kasih Untuk Kang Wawan Ajen, Kang Tavip Lampung, Kang Dodong Kodir, Istriku (nining juharningsih Radea), Kedua anakku (Arya dan Sadhra), orang tuaku, adik-adiku, keluargaku, teman-temanku, bangsa Indonesia, dan darah seni yang diwariskan padaku. terima kasih tak terukur untuk Allah SWT.

    BalasHapus
  2. mana oleh-olehna atuh....

    BalasHapus