Rabu, 03 Februari 2010

KISAH WAYANG AJEN DI SPAIN (bag. 11)

Catatan Pandu Radea  dari Festival International de Titeres de Canarias

DOUBLE IMPACT

          
Berbeda dengan di El Rosario, disini kami bermain dengan total. Semua peralatan gedung menunjang kebutuhan pagelaran. Jorge, tekhnisi gedung antusias membantu kami walaupun tangannya tengah sakit. Kami ingin tunjukan kepada Domingo Borges dan penonton, kekuatan seni Wayang Golek Sunda. Pertunjukan kami tidak sia-sia. Penonton terpuaskan. Usai pagelaran selesai mereka memberikan standing aplaus sambil berdiri, ini adalah gaya penghormatan tinggi ala eropa. Setelah itu penonton  langsung menyerbu panggung untuk memberi selamat sekaligus mengerumuni kami.  Malam itu kami menjadi bintang. 

          Usai pagelaran, kami segera berkemas, energy yang banyak terkuras membuat kami ingin segera merebahkan diri di kamar hotel. Setelah packing material selesai, Domingo tergopoh-gopoh menghampiri kami. Dengan bahasa Inggris terpatah-patah dirinya menyampaikan permohonan agar malam itu juga kami main lagi. Hal itu, menurutnya atas permintaan dari warga yang tidak sempat menonton karena terlambat datang. 
 
          1 menit kami berembug. dan Domingo tampak puas saat kami mengatakan “its oke. No problem”  meskipun kondisi tubuh sangat lelah, kami bongkar kembali perlengkapan yang telah di packing. 30 menit kami diberi kesempatan untuk mengeset ulang panggung. Dan kami bermain lebih total lagi. Pertunjukan kedua ini memberikan spirit bagi kami yang sebetulnya sudah lelah. Perhatian penonton itulah yang membuat kami tetap menjaga kwalitas pertunjukan. Semua adegan berjalan lancar, banyak improvisasi baru yang kami temukan malam itu.

          Sampai akhirnya, saat usai pertunjukan dan penonton puas mengerumuni kami, Domingo, Filia, dan Fransisco menghampiri kami dan menyatakan bahwa ini adalah pertunjukan terbaik dari sekian pertunjukan dari group lain yang telah ditampilkan di gedung ini. Ana Skubik, artis dari Wiczy Theatre Polonia berkali-kali melontarkan pujiannya. Dirinya terpesona melihat pertunjukan wayang ajen, terutama kemampuan improvisasi untuk menjalin komunikasi dengan penonton.
 
            saat mengapresiasi pertunjukan lain,  penonton biasanya bersikap hening atau hanya sesekali tertawa. Namun saat menonton Wayang Ajen, selain tertawa mereka juga terlibat dalam dialog langsung terutama saat para Panakawan beraksi. Dalam satu adegan improvisasi, si cepot terpeleset jatuh dan tangannya menggantung di depan jagat wayang. “Jorge…! Help me…!” teriak si Cepot berkali-kali memanggil Jorge, si tekhnisi gedung. Merasa dirinya dipanggil-panggil, Jorge yang tidak menyadari itu adalah siasat Wawan Ajen, bergegas masuk panggung. Dalam pikirannya, mungkin ada  masalah. Apalagi  saat dirinya melihat si Cepot tergantung di jagat depan,  dengan sigap  mengulurkan tangan, mau meraih si Cepot.

          Namun sebelum, Jorge menyentuh si Cepot, dengan luwes si Cepot sudah meloncat kembali di atas  jagad dan mentertawakan si Jorge yang tertipu. Menyadari dirinya dikerjai, Jorge menjadi kikuk apalagi disaksikan ratusan pasang mata. Kekikukannya itulah yang membuat penonton tertawa terbahak-bahak. Usai pagelaran, kami kembali menjadi bintang. 
 
          Malam itu langit terasa indah. Rasa bangga menjadi sesuatu yang majemuk. Namun rasa bangga yang terbesar adalah ketika kami dengan kemampuan terbatas mampu memberikan yang terbaik. Sebagai 4 orang  Indonesia yang dhargai oleh warga spanyol di Canarias ini.  
 
          Rasa bangga ini mungkin hanya dapat dirasakan oleh kami dan handai tolan yang mengetahui perjuangan kami membangun citra bangsa di negeri asing ini. Malam itu perasaan gembira itu cukup kami pendam, tanpa berharap lebih, selain bersyukur pada Allah SWT, atas anugrah yang kami rasakan selama menjali proses berkesenian. (sambung)
 
 
 
 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar