Rabu, 03 Februari 2010

KISAH WAYANG AJEN DI SPAIN (bag. 12)

Catatan Pandu Radea  dari Festival International de Titeres de Canarias

KARAGHIOZIS, SENI BONEKA JALANAN

 
          
          Selama mengikuti Festival International Titeres de Canarias 2009, jarang sekali kami dapat mengapresiasi pertunjukan dari group lain. Hal itu disebabkan oleh padatnya jadwal pertunjukan yang harus dilakoni oleh setiap group, ditambah harus pentas di beberapa kota. Biasanya kami bertemu dengan group lain menjelang tengah malam. Biasanya pada waktu itu, beberapa group yang telah selesai pentas selalu dibawa oleh panitia untuk makan malam. Yang paling sering kami temui adalah Stasis Markopulos dari Ayusaya Puppet Theatre (Grecia). 
 

          Tgl 30 April, tim Wayang Ajen mendapat kesempatan untuk beristirahat seharian. Pada saat itu kebetulan Marko giliran tampil di casa de cultura, Los Realejos. Tempat pertunjukan tersebut jaraknya tidak begitu jauh dari hotel tempat kami menginap, sehingga kami dapat menonton pertunjukan kesenian boneka dari Grecia tersebut.  Marko tampil membawakan lakon Fasoulis yang merupakan kisah komedi kelasik. Seni boneka yang ditampilkan Marko bernama Karaghiozis. Ini adalah seni tradisional Grecia seperti halnya wayang golek atau wayang kulit di Indonesia. Tokoh-tokoh yang ditampilkan Marko diantaranya Pulchinella, Punch, Kasper, dan Petruska.

          Seni Karaghiozis lebih menitik beratkan melalui bahasa gerak seperti halnya adegan film Mr. Bean. Dalam lakon Fasoulis ini dikisahkan kekonyolan Punch yang berusaha mengambil hati  Pulchinella agar mau menerima cintanya. Tindakan Punch untuk menarik perhatian Pulchinella terkadang berlebihan. Sampai akhirnya mereka berdua menikah dan dikaruniai anak. Sebetulnya cerita yang dibawakan sangat sederhana. Cuma disampaikan dengan sentuhan komedi satir.
         
           Kemampuan Marko patut dipuji. Dirinya tidak saja bertindak sebagai dalang, namun merangkap juga sebagai pemusik. Dalam olah vocal pun seni boneka Karaghiozis memiliki keunikan tersendiri. Marko memasukan sejenis pita suara sintetis dalam tenggorokannya yang menghasilkan jeritan bernada tinggi. Tidak heran, jika seni Karaghiozis dapat dimainkan di pinggir jalan karena tidak memerlukan sound system.

          Boneka Karaghiozis dimainkan oleh jari-jari tangan. Jari telunjuk untuk menggerakan kepala, jempol dan jari tengah untuk menggerakan tangan kiri dan kanan boneka sedangkan jari manis dan kelingking untuk menciptakan gesture tubuh boneka. Jika di Indonesia tidak jauh bedanya dengan boneka si Unyil. Kepala boneka Karaghiozis terbuat dari bahan kayu yang keras, karena dalam adegan tertentu, tokoh Punch memiliki kebiasaan membentur-benturkan kepalanya dengan keras tatkala hatinya kecewa atau senang. Bunyi benturan yang keras itu menjadi efek tersendiri yang membuat pertunjukan menarik.

          Menurut Marko, Karaghiozis justru lahir dari jalanan. Panggung pertunjukannya pun hanya berbentuk kubus dengan tinggi 2 meter dan lebar 1,5 meter. Sekelilingnya ditutupi dengan kain hitam. Marko memainkan boneka atau musik sambil berdiri. Diawal pertunjukan sebagai upaya untuk menarik perhatian penonton, maka Marko selalu berdiri disamping stage Karaghiozis sambil memainkan harmonica mayornya.

          Menyaksikan permainan Marko, saya dan Tapiv sependapat bahwa seni Karaghiozis memerlukan energi yang besar. Pengolahan vocal dengan memasang alat tertentu di tenggorokan adalah tindakan ekstrim yang hanya dapat dilakukan oleh seniman Karaghiozis yang terlatih. Menurut Marko jika alat tersebut tertelan maka akan menyumbat pernapasan, dan mengakibatkan kematian.
          Usai pertunjukan saya adalah orang pertama yang memberikan selamat, tidak saja menjabat tangannya namun juga memeluknya sekaligus mencium aroma bajunya yang sudah 8 hari tidak diganti.  Lelaki yang telah memiliki 2 orang anak itu betul-betul seniman yang hebat. Dari sekian group boneka yang diundang, hanya Satasis Makopulos yang tampil dari panggung ke panggung seorang diri, sembari menggendong peralatan boneka yang beratnya mencapai 30 kg. Bravo Marko !



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar