Selasa, 02 Februari 2010

KISAH WAYANG AJEN DI SPAIN (bag. 5)

Catatan Pandu Radea  dari Festival International de Titeres de Canarias

MUCHAS GRACIAS FRANSISCO BRITO !


Kami sangat berterima kasih sekali kepada Fransisco. Tanpa dirinya, boks perlengkapan akan terlambat kami terima. Kendati Wayang Daun sudah siap di panggungkan, namun tentu saja pentas Wayang Golek dengan proses yang sudah dimatangkan di tanah air akan jauh lebih baik. Misi kami mengenalkan seni wayang di Tenerife akan lebih afdol. Mereka bisa melihat kolaborasi Wayang Golek termasuk Wayang Kulit sebagai idiom khas seni tradisi dan budaya Indonesia yang telah diakui ke adiluhhungannya di dunia International.

Berkali-kali Fransisco mengucapkan kata crazy saat kami menceritakan akan pentas dengan wayang daun jika boks perlengkapan tidak datang. Dirinya begitu terperangah saat kami mendemontrasikan Wayang Daun. Menurutnya, dalam situasi yang genting dan darurat ternyata kami mampu berekspresimen yang hasilnya layak untuk ditampilkan. Inilah kreatifitas seniman di tingkat master, kurang lebih demikian komentar Fransisco yang saya tangkap.  Saya hanya nyengir mendengar pujian Fransisco. Dalam benak saya, bikin wayang daun  seperti ini anak kecil juga bisa. Dulu, bikin wayang dari daun singkong telah menjadi bagian dari permainan anak-anak di lembur.

Mungkin lain dengan apa yang ada di benak Fransisco. bukan masalah bikin Wayang Daunnya yang memang teramat mudah. Menurutnya, selama menyelenggarakan berbagai even boneka di dunia, baru kali ini dirinya melihat tim kesenian yang mampu mengatasi dan menguasai tekanan situasi dengan menghasilkan karya baru. Karena bagaimanapun juga perlengkapan pertunjukan adalah nyawa bagi setiap grup yang akan tampil. Wayang Daun akhirnya menjadi investasi karya kami selanjutnya. Kepada fransisco kami katakan Wayang Daun tidak akan kami pentaskan, berhubung perlengkapan pertunjukan sudah ada di tangan kami. Walau sedikit menyesal pada akhirnya Fransisco berjanji suatu waktu akan menampilkan Wayang Daun jika kami sudah siap. 

Menjelang sore, kami dijamu makan malam di sebuah restoran tradisional di Los Realejos. Tempatnya di pegunungan dengan ketiggian 700 dpl. Sebelumnya kami diperkenalkan kepada Mr. Domingo Bordes, ketua panitia Festival International de Titeres de Canarias yang menyambut kami dengan ramah. Berkali-kali dirinya mengucapkan muchas gracias yang berarti terima kasih banyak. Mengenai bahasa, yang pertama saya ingat adalah kata salida. Tulisan ini banyak ditemukan dimana-mana. Awalnya saya menyangka salida adalah jenis makanan sejenis salad atau sayuran. Ternyata salida berarti keluar. Sehingga ketika pertama kali saya minta salida ke pelayan restoran, hasilnya adalah saya disuruh keluar.

Di Spanyol saat ini adalah musim semi. berbagai bunga liar bermekaran dimana-mana. Betul-betul indah. Inilah salah satu puncak mimpi saya. Pemandangan eropa yang biasanya hanya dapat saya lihat di kalender-kalender, kini terpampang langsung di depan mata. Di tempat ini, kami pun berjumpa dan berkenalan dengan seniman boneka dari Yunani dan Spanyol yaitu Stasis Markopolus (Ayusaya), Marga Carbonell, Miren Larrea dan Gini Tellez. Momen penting ini menjadi pertemuan budaya antara asia dan eropa. 

Mereka bertanya banyak tentang Indonesia yang memang kurang dikenal. Hanya 3 tempat di Indonesia saja yang mereka tahu. Domingo hanya tahu Aceh saja karena berita Tsunami beberapa tahun lalu. Marga hanya tahu Papua,  dengan suku asmat yang sempat dibacanya di buku archipelago. Sementara Mirren dan Gini hanya mengenal Bali. Mereka semua tidak tahu bahwa tempat-tempat tersebut adalah Indonesia.   

Karena keterbatasan bahasa, untuk menjelaskan Bali, saya terpaksa mendemontrasikan tari Bali. Setelah susah payah peperengkelan meniru tari Bali sambil sekali-kali molototkeun mata, mereka akhirnya ingat akan Bali. Bahkan Gini, gadis jangkung ini minta diajari. Ketika Tavip menggambarkan Kalimantan, maka yang diperagakan adalah tarian  dayak yang acak kadut. ya, kepada mereka kami jelaskan keragaman seni budaya di Indonesia.  dengan keterbatasan, yang ada kami berupaya menggambarkan budaya Indonesia. Sedikit demi sedikit akhirnya mereka mulai faham tentang Indonesia. Apalagi setelah Wawan Ajen membuat peta kasar Indonesia dari perpaduan pizza, beef dan roti kering.

selesai ngobrol tentang Indonesia maka  Mirren yang merupakan peñata music di kelompok La Canija mulai bermain musik. Irama latin pun menghentak dari gitar akustik yang dimainkannya dengan energik. Sontak Magda pun tampil menarikan flamenco. Sementara yang lain, bertepuk tangan mengringi irama gitar.  Marco yang terlihat pendiam, mulai memainkan harmonicanya. dan Dodong pun menimpalinya dengan  suara karinding, dan kloplah sudah, sebuah harmoni yang indah dari persentuhan budaya yang berbeda, mengalun di lereng pegunungan Los Realejos.

Malam yang yang bersuhu 7 derajat C pun dihangatkan suasana ceria. Berikutnya kami diminta tampil kembali. Kali ini mereka meminta kami memainkan lagu khas yang tengah popular di Indonesia. Rupanya mereka sangat penasaran ingin tahu kebudayaan Indonesia. Setengah grogi saya mencoba memainkan gitar dan Dodong Kodir memainkan alat petik sejenis banjo. Mendadak ingatan saya menjadi blank. Hanya satu lagu yang saya ingat, yaitu, Hujan Duit. 

Irama dangdut pun terdengar. Wawan Ajen tampil sebagai vokalis dan Tavip yang bersuara silung menjadi penyanyi latar. Berhubung penonton adalah orang asing, mereka sangat menikmati senandung kami yang diangap merdu (atau mungkin pura-pura menikmati). Padahal jika diIndonesia pertunjukan kami ini mungkin diseungseurikeun. Namun peduli amat, yang penting mereka memberi aplaus yang meriah. Lagu berikutnya adalah Bang Toyib. Entah kenapa, saat itu hanya lagu dangdut yang nempel di otak saya. Sialnya lagi, baik Wawan, Dodong, dan Tapiv ternya mengalami juga penyakit limpeuran.

Karena mereka semakin intens, kami pun semakin pe-de. Maka lagu-lagu berikutnya pun mengalir spontan. Akhirnya kami mulai mengingat lagu-lagu lainnya, terutama lagu-lagu daerah seperti   Bubuy Bulan, Mojang Priangan, Bungong Jeumpa, Gundul-gundul Pacul dll diperdengarkan secara medley. Suasana semakin hangat saat Wawan Ajeng tampil ngibing, memancing Gina untuk ikut ngarengkenek. Kolaborasi flamenco dan bajidoran yang aheng dan pikaseurieun.  
 
Semakin larut, malam pun semakin unik dan hangat. (sambung)




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar