Sabtu, 06 Maret 2010

Upacara Ritual Nyangku

 Oleh Pandu Radea
Nyangku, Nyaangan Laku di Kota Embun Panjalu
          Tulisan ini adalah hasil liputan pada Kegiatan Upacara Ritual Nyangku 3 tahun yang lalu. Dimuat sebagai Liputan Khusus pada  HU Priangan. Pada kesempatan ini ditampilkan kembali, sekedar memberi gambaran tentang Ritual Nyangku, terutama bagi pembaca yang belum tahu tentang kegiatan tradisi yang rutin diselenggarakan setiap bulan Maulud ini. Semoga bisa bermanfaat.

          Langit lenglang, sinar matahari leluasa menghangatkan pagi yang dingin di Kota Embun Panjalu. Mangsa haneut moyan butir embun pun  mulai menguap seolah menjadi pertanda wanci nu mustari untuk mengawali Prosesi Ritual Upacara Adat Nyangku, yaitu tepat pukul 09.30 WIB. Bul ngukus asap kemenyan mengepul dari parukuyan bercampur dengan wangi minyak misik, zafaron dan cempaka tercium dari barisan panjang para pewaris adat yang sudah siap sejak pagi untuk lungsur (istilah memberangkatkan pusaka)  melaksanakan tradisi yang sudah berlangsung sejak ratusan tahun ini. Galindeng shalawat menggema handaruan bercampur dengan tepak gembyung membuat atmosfir Panjalu terasa dikungkung oleh rasa khidmat yang merasuk sampai hati sanubari. Langkah-langkah lambat rombongan pembawa pusaka seolah ngembat ajrih, tanda hormat pada sang leluhur Panjalu yaitu Prabu Borosngora, yang telah mewariskan ajaran Islam bagi masyarakatnya.

          Benda-benda yang akan dibersihkan merupakan pusaka utama warisan dari sejarah Islam yang dibawa oleh Prabu Borosngora setelah bertemu dengan Sayyidina Ali di Tanah Arab sekitar tahun 600 M. Pusaka tersebut diantaranya Pedang, Gentra, dan Kujang . Disamping itu  terdapat pula puluhan keris, pedang, dan tombak. Benda pusaka tersebut semuanya dibalut tebal oleh lapisan kain, dan dibawa dengan cara di ais menggunakan samping kebat yang melandungi tubuh sang pembawa pusaka seperti layaknya menggendong anak kecil. Selain unik, terasa pula adanya aura sacral yang memancar dan terasa oleh ribuan penonton yang hadir menyaksikan jalannya prosesi.

          Dibagian depan rombongan tampak barisan 40 orang Jagabaya mengawal pasangan Mojang dan Jajaka Kabupaten Ciamis, disusul berturut-turut  barisan Dede Yusuf berikut artis-artis Simpay diantaranya Edies Adela, Ica Afi, Riki Hermawan, Rico Garendra dll, Para petinggi pemerintahan dari tingkat desa sampai Nasional, tokoh masyarakat dan Pangeran Patih Kodiran yang mewakili Sultan Kanoman,  pembawa baki salin pusaka, disambung oleh iringan inti pembawa pusaka yang jumlahnya lebih dari 50 orang, diikuti 9 orang wanita pembawa kele yang berisi air keramat untuk siraman,  disusul penabuh gembyung Dusun Rumalega, dan dipungkas oleh aleutan masyarakat. Yang menarik adalah iringan pembawa kele berisi air untuk mencuci pusaka. air tersebut diambil dari 9 mata air yang terdapat di sabudeureun Panjalu sebagai symbol untuk meungkeut jalinan silaturahmi guna memupuk rasa persatuan dan kesatuan. Sedangkan pembawa kele itu sendiri adalah para wanita yang sudah menopouse. Dan yang menjadi pembawa pusaka adalah warga yang memiliki garis keturunan dari Kerajaan Panjalu.

          Aleutan pun bergerak pelan menuju Situ lengkong yang berjarak sekitar 600 meter dari Bumi Alit. Para tokoh dan pembawa pusaka pun kemudian menyebrangi situ menuju Nusa Gede untuk melaksanakan tawasulan di makam Hariang Kancana Dengan menaiki beberapa perahu, di dermaga Nusa Gede Rombongan disambut kembali oleh seni gembyung dari Dusun Dukuh yang sejak pagi tak henti meneriakan shalawat.. Selepas itu lalampahan pun dilanjutkan menuju alun-alun Panjalu untuk melaksanakan ritual pencucian pusaka di menara bambu setinggi 2 m yang berdiri di tengahnya. Sebelum dicuci seluruh pusaka dibariskan di atas kasur khusus diatas panggung khusus. Konon kasur yang dipergunakan untuk pusaka tersebut sudah lima tahun usianya dan selama itu tidak boleh dipakai tidur.

           Kemudian balutan kainnya dibuka dan satu persatu benda-benda tersebut di acungkan oleh RH. Atong Cakradinata, sesepuh dan keturunan dari kerajaan Panjalu. Sedangkan pedaran riwayatnya disampaikan oleh Ir. Enang Sumpena dan R.Edi Hernawan Cakradinata kepada khalayak ramai yang antusias mengikuti jalannya prosesi. Usai itu, maka pusaka-pusaka utama  yang terdiri dari Pedang, Kujang, dan Gentra (goong kecil) itu mulai dicuci di atas menara bambu oleh petugas siraman yang sudah berpengalaman.

          Momen inilah yang ditunggu-tunggu oleh para penonton. Pencucian pusaka merupakan puncak sugesti. Pengaruhnya mampu membuat warga berdesak-desakan berebut air cucian yang jatuh dari atas menara. Baik untuk di bawa pulang atau dibasuhkan langsung ke wajah, bahkan tidak sedikit yang meminumnya dengan keyakinan untuk ngalap berekah. Fenomena seperti ini memang selalu ada dan sulit untuk dihilangkan walau sudah dihimbau oleh para petugas bahwa air tersebut jangan dipergunakan untuk hal lain, apalagi diminum. Namun sebagian warga tidak peduli. Kenyataan seperti itu tidak berbeda dengan Pelal Panjang Jimat di Cirebon dan Sekatenan di Yogyakarta ketika air bekas ngumbah pusaka selalu diperebutkan karena dianggap memiliki barokah tertentu.

             Bersamaan dengan pencucian pusaka, dipagelarkan pula seni debus Sanhyang Panji Barani dari Desa Bahara. Pintonan debus tersebut untuk mengalihkan perhatian penonton agar tidak terfokus untuk mengambil air bekas mencuci pusaka. Upaya tersebut cukup berhasil karena warga yang berburu air bekas siraman terlihat semakin sedikit di banding tahun-tahun sebelumnya.  Selain dicuci oleh air dari 9 mata air, setiap logam pusaka juga dibersihkan menggunakan jeruk nipis untuk mencegah karat. Setelah bersih, maka pusaka-pusaka tersebut dikeringkan dalam kepulan asap kemenyan putih, lalu dibungkus daun kawung yang masih ada lidinya (khusus untuk menutupi seuseukeut pedang), kemudian dibalut kanteh (bahan benang, untuk menjaga kelembaban), terakhir di bebat oleh kain putih bersih minimalnya 3 rangkap dan maksimalnya 5 rangkap. Usai itu maka Prosesi Nyangku dapat dikatakan selesai seiring dengan mulih (istilah membawa pulang) pusaka-pusaka tersebut ke Bumi Alit untuk disimpan sampai Nyangku tahun depan.

          Esensi dari Nyangku adalah tanda syukur pada Allah SWT disamping mieling hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dalam filosofisnya, RH Atong Cakradinata mengatakan bahwa Nyangku adalah cermin untuk merevitalisasi kembali prilaku hidup dengan berpedoman kepada “amar ma’ruf nahi munkar”   Sedangkan secara lahiriahnya Nyangku merupakan upaya untuk merawat dan melestarikan benda-benda peninggalan sejarah Kerajaan Panjalu agar tidak rusak, baik oleh alam maupun waktu.***


Benda Pusaka Panjalu, Symbol Penegakan Ajaran Islam

          Yang paling diutamakan dalam prosesi Nyangku adalah pencucian Pedang yang diwarisi dari Sayidina Ali r.a. sebagai tanda mata kepada Prabu Borosngora yang telah menerima langsung ajaran Agama Islam sekaligus sebagai perlengkapan tugas dalam perjuangannya menyebarkan agama Islam.  Bukti bahwa pedang ini berasal dari Sayiddina Ali r.a, dibilahnya tertulis  3 kalimat bahasa arab yang berbunyi : La Fabasirtha Ali Ya Ali al dzulfikaqar Wa Ali Wasohbihi Azma’in, Laa Syaefi Illa Dzulfiqar, Laa Fatta Illa Aliyya Karomallahu Wajnahu. Artinya : Ini adalah pedang milik Syaidinna Ali Karomallohu Wajhnahu. Pedang ini juga pernah diteliti oleh Ir. Suhamir, ahli purbakala dari pusat, hasilnya disimpulkan bahwa bahan logamnya bukan berasal dari Nusantara.

          Selain pedang, Syaidinna Ali Ra juga memberikan Ciss atau tongkat khotbah bermata dua terbuat dari besi. Menurut Kuncen Bumi Alit, Asep Enjen dan Aleh Aswir (mantan Kuncen Bumi Alit) pedang dan ciss ini pernah dirampas oleh gerombolan Kartosuwiryo pada malam Kamis di tahun 1955. Pedang tersebut ditemukan kembali di Gunung Sawal setelah gerombolan Kartosuwiryo berhasil dilumpuhkan oleh tentara RI. Sedangkan Ciss nya sampai saat ini hilang.  Selain pedang dan ciss, Sayidinna Ali juga memberikan semacam jubah. Namun menurut Enjen jubah tersebut sudah sangat rapuh karena dimakan usia. Selain ketiga benda tersebut terdapat pula Gentra yang diwarisi Borosngora dari leluhurnya. melihat bentuknya yang menyerupai alat kesenian bareng (Goong kecil), benda ini mungkin pada masanya berfungsi untuk ngagentraan (memanggil) saat akan memulai sidang musyawarah atau dakwah.

          Menurut RH. Atong Cakradinata, Pedang merupakan symbol perjuangan dalam menegakan agama Islam, sedangkan  ciss merupakan symbol dakwah dalam syiar Islam dan Gentra adalah perlambang musyawarah. Ketiga barang tersebut dimaknai sebagai Pusaka Panjalu. Menurut sejarah Panjalu ketiga benda ini diwasiatkan oleh Borosngora kepada rakyatnya saat akan pergi menjalankan syiar Islam. Sebelum berangkat Borosngora berpesan “Sing saha wae anak incu nu hayang jiarah ka kaula, teu perlu neangan dimana kaula dikuburkeun, tapi cukup nyaksian pusaka ieu. Tapi lain hartina kaula nyurup kana ieu benda, tapi kudu dilenyepan  yen pusaka ieu ciri perjuangan kaula neangan elmu jeung nyebarkeun agama Islam.”

          Atong juga mengatakan bahwa Prabu Borosngora adalah raja yang sangat menghargai ajaran Karahyuan dari para leluhurnya. Isi dan maknanya oleh   Borosngora kemudian diselaraskan dengan nilai-nilai agama Islam, seperti falsapah Mangan karana halal, Pake karana suci, Ucap lampah Sabenere. (Makan harus yang halal, kepribadian dan prilaku harus suci, perkataan dan perbuatan harus benar). Bahkan menurut Atong, kata makan tersebut memiliki makna yang luas, bukan sebatas arti lahiriah namun filosofisnya adalah apa yang dirasakan oleh pancaindra harus pada tempatnya agar perbuatan menjadi bersih dan suci. Selain itu, terdapat pula papagon lain yang berbunyi, Uriwah, Urinyah, Matanya, Baganya yang mengandung arti bahwa prilaku harus selalu kreatif inovatif, etos kerja yang tinggi, jangan bodoh keblinger, baik laki-laki dan perempuan harus saling asah, asih dan asuh.

          Papagon Karahayuan di Panjalu  memiliki relevansi yang termaktub dalam inskripsi baris terakhir Prasasti I Astana Gede Kawali yang isinya berbunyi, Aya ma nu pa (n)deuri pakena gawe rahhayu pakeun heubeul Jaya Dibuana. Tersiratnya hubungan antara Papagon Panjalu dengan Prasasti Astana Gede memberi gambaran bahwa antara Kerajaan Panjalu dan Kerajaan Kawali memiliki sebuah ikatan kuat***

  
 
Pasar Malam, Hiburan Tahunan Warga Panjalu

Bagi warga Panjalu yang tinggal di kota, Nyangku selalu dijadikan kesempatan untuk pulang kampung berkumpul bersama kerabat keluarga sembari aub dalam kemeriahannya. Sedangkan bagi yang tinggal di Panjalu, Nyangku adalah wahana yang yang mampu merubah suasana biasa menjadi luar biasa. Dengan Nyangku,  Panjalu menjadi terasa beda tisasari, bahkan kemeriahan Nyangku sama halnya dengan perayaan Lebaran.

Hal tersebut dapat dilihat sejak tiga minggu menjelang Nyangku, karena secara rutin panitia setempat yaitu Karang Taruna dan LPM Desa Panjalu selalu menggelar Festival Budaya Panjalu atau disebut juga Bazar dan Pasar Malam yang diisi aneka permainan seperti Komedi putar, Ombak Banyu, Mandi Bola, Kakapalan, jajanan, dan aneka jualan lainnya, selalu disambut hangat masyarakat yang berdatangan dari sekitar wilayah Panjalu ada pula yang sengaja datang dari luar kota, seperti dari Kuningan, Majalengka, Cirebon, Tasikmalaya, Garut, bahkan dari luar Jawa Barat. Alhasil adanya pasar malam ini membuat Desa Panjalu yang biasanya tiiseun bak kota mati dimalam hari, menjadi hidup berdenyut waldan menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakatnya.

Walau pada Nyangku kali ini lokasi pasar malam harus pindah menggunakan areal jalan di kampung Cimendong, karena tempat maneuh yang biasanya dipakai yaitu alun-alun Panjalu kini tidak dapat dipergunakan lagi karena areal itu telah dibangun menjadi taman budaya yang diperuntukan untuk kegiatan-kegiatan budaya saja, toh tidak mengurangi antusias warga untuk mengunjunginya. Pasar malam bagi warga Panjalu dapat dianggap sebagai hiburan tahunan yang selalu ditunggu. Tidak saja karena murah meriah dan rekreatif, pasar malam dan bazaar ini menjadi lahan bagi warga sekitar untuk dijadikan sumber penghasilan tambahan, baik untuk berjualan maupun menyediakan jasa lainnya. Seperti parkir misalnya.

“Kali ini bazzar dan pasar malam dikelola oleh Karang Taruna Kampung Cimendong, karena lokasinya bertempat di Cimendong. jumlah pedagang mencapai 75 stand yang disediakan panitia .” ujar Ketua Panitia , R. Haris Riswandi SE.  Pedagang-pedagang tersebut, kata Hendar, berasal dari Cirebon, Jawa, dan kebanyakan dari Padang ditambah beberapa pedagang warga Panjalu. Sedangkan grup korsel yang dihadirkan berasal dari Ciawi. Setiap pedagang dikenakan sewa sebesar Rp. 200 ribu/stand. Hasilnya, kata Hendar, akan dialokasikan untuk Prosesi Nyangku, Sub Karang Taruna Desa, Dan Karang Taruna Kampung Cimendong.

Mengenai lokasi baru tersebut, Haris mengatakan tidak ada perbedaan dengan di alun-alun. “Kelebihan lokasi sekarang stand-stand semuanya dapat dilalui oleh pengunjung karena bentuknya parallel dan tidak becek oleh air hujan.”  Papar Haris. Beberapa pengunjung sepakat dengan paparan Hendar, namun mereka menyoroti pula sempitnya jalur untuk lalu lalang karena stand-stand tersebut menyita hampir seluruh lebar jalan. Disamping itu gebyar dan kemeriahanya kurang terasa karena lokasinya agak tertutup oleh pemukinan penduduk, tidak terbuka seperti di alun-alun.

“Walau demikian pedagang umumnya merasa puas, karena mau dimana lagi. Lokasi ini berdekatan dengan alun-alun dan Bumi Alit. Kendala yang dihadapi saat ini hanyalah factor cuaca saja, karena  selama penyelelenggaraan Nyangku  waktunya selalu berbarengan dengan musim hujan dan itu sudah dianggap biasa.” Imbuh Haris Memang, Nyangku dan Pasar Malam seolah tidak dapat dipisahkan. Hal tersebut terasa saat Pasar Malam tidak dihadirkan pada Nyangku tahun 2006, sehingga kala itu banyak warga yang merasa kehilangan momen kemeriahan yang biasanya selalu dirasakan 2 minggu sebelum Nyangku.****

Nyangku Menepis Kemusyrikan

Upacara Nyangku merupakan ekspresi sejarah budaya  sekaligus peringatan hari kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW. Diselenggarakan Oleh Yayasan Borosngora, bekerja sama dengan Pemdes Panjalu, Disbudpar Ciamis dan didukung oleh kalangan masyarakat Panjalu.  Oleh karena itu, sebagai sebuah tradisi maka perayaannya selalu ditunggu-tunggu. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi daya tarik wisata yang mampu menyedot perhatian berbagai kalangan. Bahkan pejabat tingkat nasionalpun kerap menghadirinya. Kendati saat ini musim hujan, namun tidak mengurangi kegairahan masyarakat untuk mengikuti momen penting yang menjadi ikon sejarah di Panjalu dan sekitarnya.

“ Nyangku kali ini bertemakan Peningkatan Ukhwah Islamiah dalam Menghilangkan Kemusyrikan” Ujar Ketua Umum Panitia Nyangku, R. Edi Hernawan Cakradinata kepada Priangan. Tema tersebut untuk menepis adanya anggapan bahwa kegiatan Nyangku mendekati musyrik. Seperti misalnya air bekas mencuci pusaka yang dianggap memiliki barokah, atau adanya pengkultusan terhadap benda-benda pusaka.  Kegiatan Nyangku, kata Edi, semata-mata hanya kegiatan budaya untuk menghormati dan menghargai sejarah Islam di Panjalu, “Baik Yayasan Borosngora, pemerintahan desa maupun alim ulama,  selalu berusaha untuk  selalu mengikis prilaku sebagian masyarakat yang mempunyai fanatisme berlebihan tentang Nyangku.” imbuhnya
      
 “Salah satu antisipasinya adalah menampilkan seni debus bersamaan dengan memandikan pusaka sebagai cara untuk mengalihkan perhatian warga yang ingin mengambil air bekas mencuci. Namun lepas dari itu, semuanya dikembalikan kepada keyakinan masing-masing.” Untuk mengentalkan syiar Agama, lanjut Edi, maka beberapa hari sebelum Nyangku, diselenggarakan berbagai kegiatan religi. Yaitu : Muludan, Lomba Dakwah Remaja yang diikuti oleh 2 kecamatan (Panjalu dan Sukamantri), Marhabaan Anak-anak se Desa Panjalu, dan Tagoni Kampung Simpar. Malam harinya, bertempat di Bumi Alit diselenggarakan Tawasulan dan Barjanji dari Dusun Pabuaran, disambung Gembyung semalam suntuk. Sedangkan di Alun-alun ditampilkan seni Debus dari Banjarwaru

Aceng Ramli, salah seorang ulama di Panjalu, menyatakan bahwa Budaya harus dipisahkan dari agama. “Agama Islam adalah kemutlakan, tidak mungkin bathil sedangkan budaya itu relatif, untuk itu harus diusahakan jangan sampai menjadi musyrik. Dan Nyangku sebagai budaya harus dijadikan sarana untuk lebih memasyarakatkan agama “ Ujarnya. Lebih jauh Aceng mengatakan bahwa Nyangku berasal dari bahasa arab yaitu  yan ko yang berarti membersihkan. Benda yang bernilai sejarah memang harus dirawat dan dibersihkan agar lestari sebagai bukti bagi generasi selanjutnya agar tetap mengenal dan menghargai kandungan sejarahnya. Sedangkan Edi  mengatakan filosofis dari Nyangku ini diharapkan jadi lenyepaneun serta panggeuing bagi masyarakat Panjalu agar lebih membersihkan diri dalam menjalankan ajaran Islam, baik vertikal maupun horizontal. Sesuai dengan arti Panjalu yaitu Papagon Agama Nagara Jadikeun Amalan Lahir batih Ulah salah.

Selama bulan mulud ini  ceramah keagamaan diselenggarakan bergantian di setiap dusun. contohnya Kampung Pabuaran dengan mengundang Witrin Nur Justiatini, juara pertama Daiah TPI tahun 2006. Selain ceramah keagamaan tak ketinggalan alunan ritmis Gembyung yang terdengar berkumandang dari speker mesjid, seperti yang dilakukan oleh Kampung Sriwinangun. Seiring dengan itu pejiarah pun mulai berdatangan dari berbagai pelosok, terutama dari Jawa ke Situ Lengkong. Alunan syahdu shalawat kerap terdengar dari perahu yang mereka tumpangi mengelilingi Pulau "Koorders” (nama lain dari Nusa Gede) sebelum berjiarah ke makam Hariang Kancana.
           
           Sebagai tradisi budaya yang dianggap sakral, Nyangku memang menjadi magnet yang mampu menarik ribuan orang untuk datang. Baik untuk sekedar menonton maupun ikut larut dalam sugesti ritualnya. Berbagai media cetak dan elektronik local maupun nasional pun tak ketinggalan untuk mengabadikan momen budaya ini sebagai karya jurnalistiknya sehingga hasilnya dapat dinikmati lebih luas lagi sebagai salah satu kekayaan khazanah budaya  Indonesia sekaligus asset wisata Andalan Kabupaten Ciamis. ****

2 komentar: