Minggu, 10 April 2011

GANK MONYET CAGAR ALAM PANGANDARAN

Si Condor, Legenda Monyet Cagar Alam Pananjung
Catatan Pandu Radea

            Prilaku monyet memang mirip manusia, tidak heran karena jika binatang mamalia ini digadangkan  sebagai kerabat terdekat  manusia. Salah satu kemiripannya adalah cara hidupnya yang selalu berkelompok dalam kawasan tertentu. Umumnya monyet masih banyak dijumpai diwilayah hutan maupun pegunungan dengan populasi yang relatif  stabil. Monyetpun terkadang menjadi hama bagi petani yang memiliki ladang di wilayah perbatasan habitatnya. Peranjahan tersebut terjadi manakala sumber makanan dihutan mulai berkurang disebabkan antara lain semakin sempitnya wilayah tempat tinggal mereka akibat perambahan hutan.
            Salah satu habitat monyet yang tetap terjaga adalah di kawasan Cagar Alam Pananjung di ujung selatan Pantai Pangandaran. Kawasan Cagar Alam ini merupakan salah satu tempat yang masih dianggap sisa dari ekosistem hutan dataran rendah di Jawa Barat dengan luas keseluruhan mencapai 530 hektare. Sedangkan wilayah yang sudah ditetapkan sebagai kawasan wisata alam seluas 37,70 hektare. Monyet yang terdapat di Kawasan ini merupakan jenis Monyet Ekor Panjang (Macaca Pascicularis) dan Lutung (Prebytis Cristata). 
            Khusus mengenai Monyet Ekor Panjang, sebarannya terbagi dalam dua wilayah yaitu kelompok-kelompok yang mendiami taman wisata dan kelompok yang tinggal di pedalaman hutan wisata. Walaupun sama-sama sejenis namun sifat dan karakteristiknya sedikit berbeda. Monyet taman wisata umumnya lebih “someah” terhadap manusia dibandingkan dulur-dulurnya yang yang tinggal di leuweung jero. Sifatnya yang tidak takut manusia itu dikarenakan seringnya berinteraksi dengan manusia semenjak kawasan tersebut sering dikunjungi wisatawan. 
             Dengan diiming-imingi sebungkus kacang atau makanan ringan lainnya, kelompok monyet yang biasanya banyak menghabiskan waktu diatas pohon mulai berani turun dan mendekati manusia untuk mendapatkan beberapa cuil makanan. Lambat laun merekapun mulai terbiasa wara-wiri di daratan sembari menunggu jatah makanan dari pengunjung. Bahkan tidak aneh jika melihat ada orang datang sambil membawa tas atau kantung, gerombolan monyet itu akan segera menyambutnya. Tentu saja hal itu menjadi hiburan tersendiri. Sehingga sebelum masuk, biasanya pelancong sering disarankan untuk membawa sekedar oleh-oleh untuk si ekor panjang. 
Si Condor
            Sedangkan monyet yang tinggal di pedalaman umumnya lebih pemalu dan banyak menghabiskan waktu diatas pohon. Selain itu warna bulunyapun terlihat lebih bule. Demikian pula dengan komunitas lutung yang setali tiga uang dengan kelompok ini.  Menurut Aweng, Iwan dan Adeng, tiga orang guide yang menemani Priangan mengamati prilaku Monyet Ekor Panjang di taman wisata, ternyata ada 7 “gank” monyet yang berkuasa di 7 wilayah berbeda. Setiap ganknya beranggotakan sekitar 25-30 ekor dan masing-masing genk memiliki  pemimpin yang merupakan monyet terbesar dan terkuat di kelompoknya.
            Ketujuh monyet yang merajai wilayahnya itu  telah  dikenal baik oleh para Guide maupun oleh warga setempat, sehingga diberi nama sesuai dengan penampilannya. Namun, diantara tujuh raja tersebut tidak ada yang mampu melebihi kebesaran nama Si Condor. Rupanya dalam dunia permonyetan, Si Condor adalah monyet legendaris yang mampu menundukan ketujuh bos monyet yang berkuasa pada jamannya. Si Condorlah satu-satunya monyet yang bebas seenaknya keluar masuk wilayah kekuasaan para jeger monyet yang biasanya selalu dijaga ketat oleh setiap kelompoknya.
    
Si Berengut, The Rising Star
Si Berengut
            Sepak terjang Si Condor dalam menaklukan 7 bos monyet bukanlah omong kosong karena diakui sendiri oleh para guide yang biasa bekerja di Taman Wisata. “ Si Condor memiliki pengaruh yang luas bagi kawanan monyet ekor panjang di taman wisata ini. Sifatnya sangat agresif bahkan selain suka merampas makanan yang dipegang pengunjung si Condor juga  berani menyerang manusia sehingga banyak juga pengunjung yang ketakutan jika berurusan dengan Si Condor” Ujar Iwan diamini oleh Aweng dan Adeng.
            Adeng juga menambahkan bahwa  prilaku Si Condor semakin semakin hari tambah liar bahkan cenderung gila sehingga membahayakan bagi pengunjung, akhirnya dengan pertimbangan berat Raja Monyet ini harus tewas di eksekusi mati oleh petugas yang berwenang dalam penanganan satwa liar sekitar 2 tahun yang lalu. Sejak kematian Si Condor akhirnya 7 gank monyet kembali merdeka dan mengusai wilayahnya masing-masing tanpa harus membayar “upeti”.
            Menurut mereka bertiga, saat ini yang menjadi raja-raja wilayah diantara kelompok monyet tersebut yaitu, Si Boni penguasa di Kawasan Gua Jepang,  Si Babon penguasa di Gua Lanang, Si Rawing di Gua Parat, Si Bingkeng di Sekitar Situs Batu Kalde, Si Codet di kawasan Pasir Putih barat, dan si Berengut di sekitar Pasir Putih ujung. Sedangkan si Black Face penguasa  wilayah Gua Panggung telah mati sekitar 6 bulan yang lalu akibat keracunan dan sampai saat ini penggantinya belum terlihat “kiprahnya” sehingga  belum mendapatkan gelar.
            “Dingaranan kitu teh pedah beungeutna hideung. Eta monyet kaitung gede kawani najan suku katuhuna cingked. Da mun ningali jalma nu nyampeukeun teh sok siap masang kuda-kuda. Jiga nu boga kaceuceub, panginten sukuna cingked teh urut ditandasa ku jelema.” Papar Adeng. Saat ini sosok monyet yang tengah naik daun adalah si Berengut dan si Bingkeng, bahkan si Berengut mulai melebarkan pengaruhnya ke wilayah-wilayah tetangganya. Sesuai dengan namanya, tampangnya memang sangat judes dan sangar ditunjang oleh taringnya yang panjangnya mencapai 3 cm.
            “Jigana Si Berengut aya turunan ti Si Condor, abdi kantos rek duel jeung manehna basa si Berengut maling kantong pengunjung nu nuju ngojay. Kapendak ku abdi diudag kalahka malik nyerang. Najan di baledog ku keusik oge teu sieuneun. Untung aya rerencangan nu mantuan maledog ku taneuh. Tah ari ku taneuh mah sieuneun, manehna kabur bari ninggalkeun kantong nu rek dipalingna.” Jelas Adeng menceritakan pengalamannya.
            Lain halnya dengan si Bingkeng yang ekornya memang bengkok. Monyet yang satu ini jangan dianggap gegabah dibalik penampilannya yang tenang dan terkesan so kenal so akrab ternyata memiliki reputasi buruk bagi anak-anak. “Aya murangkalih nu di jenggut rambutna teras digusur. Untung teu nanaon da enggal di gebah ku taneuh.  Tos dua kali kajantenana,  gara-gara suuk nu di parabkeun ku eta murangkalih ka si Bingkeng seep.” Kata Adeng.
            Baik Iwan, Adeng maupun Aweng menyatakan bahwa memang prilaku monyet di Cagar Alam Pananjung unik-unik. Untuk sumber makanan, Monyet Ekor Panjang tidak hanya memakan tumbuh-tumbuhan namun satwa ini juga memakan kepiting, ketam atau satwa kecil lainya. Uniknya monyet yang dianggap pemimpin tidak bersifat egois di dalam kelompoknya. Jika menemukan sumber makanan, biasanya selalu memberitahu anggotanya untuk dimakan bersama-sama.

Si Santi, Sang Primadona
Si Santi
Setiap komunitas monyet memiliki daerah kekuasaanya masing-masing. Dan untuk menandai batas wilayah biasanya dengan aroma air kencingnya. Tak jarang diantara kelompok-kelompok tersebut terjadi tawuran jika terjadi pelanggaran batas teritorial serta kepergok oleh si empunya tempat. Maka jika itu terjadi, pekikan perangpun akan terdengar riuh di dalam hutan. “Silih hereng, silih gos bari nembongkeun sihung. Tapi biasana nu tarung mah rajana, ngan tara katingal. Tapi tiasa dicirikeun da sok aya wae nu tatu. Contona model si Rawing da ceulina rawing, Si Codet da aya tapak codet, si Bingkeng da tulang buntutna jiga potong. Nya panginten eta teh luka tina duel tea.” Ujar Iwan.  
Dari sekitar 175 ekor Monyet Ekor Panjang yang hidup berkomunitas di Taman Wisata, nama Si Santi cukup terkenal di kalangan para guide. Entah kenapa monyet betina  ini dinamakan sama dengan manusia. yang jelas Si Santi merupakan satu-satunya monyet jinak yang dapat dan mau dielus-elus oleh pengunjung, tentu saja dengan imbalan sekantung kacang. Para guide yang sudah biasa bergaul dengan monyet di taman Wisata dapat mengenali ciri-ciri setiap monyet dan kelompoknya. Karena mengenal dan memahami dunia monyet merupakan salah satu wawasan penting  untuk memberikan penjelasan kepada setiap pengunjung yang membutuhkan informasi. 
Dan tidak hanya dunia monyet saja, tapi termasuk juga didalamnya adalah, flora, lingkungan laut, pantai, gua, situs sejarah maupun satwa liar lainya seperti, Banteng (Bos Javaniscus), Rusa (Carvus Timorensis), Lutung (Prebytis Cristata), Kalong (Pteroditus Vamphyrus), Tando (Cenocephalus Varegatus), Jelarang (Ratufa Bicolor), Kancil (Tragulus Javanica), Musang (Vivericula Malarencis), Landak (Hystrix Javanica), Trenggiling (Manis Javanica), serta berbagai jenis burung diantaranya Kangkareng (Anthacuceros Convexus) dan Ayam Hutan (Gallus Gallus Varius). 
            Pada dasarnya monyet-monyet di Taman Wisata Pananjung merupakan monyet liar yang beradaftasi setelah habitatnya menjadi lingkungan wisata yang kerap dikunjungi oleh manusia. Keberadaanya menjadi daya tarik tersendiri disamping daya tarik lainnya yang sangat beragam dan mempesona.  Populasi monyet-monyet tersebut lebih cenderung oleh seleksi alam. Yang tua dan lemah akan tersingkirkan oleh yang muda dan sehat terutama dalam persaingan makanan. Menurut Aweng dulu pernah ada pemaksinan bagi monyet-monyet oleh ahli binatang dari Jepang. Cara menangkapnya dengan dibius memakai sumpit. Cara tersebut dipergunakan juga untuk menangkap binatang-binatang lainnya terutama yang sakit untuk diobati 
           “Si Santi Biasa na tara tebih ti Gua Jepang. Da kalebetna kana genk si Boni. Tapi kadang-kadang sok ngiring oge kana rombongan si Bingkeng. Nya rada mahiwal oge da biasana monyet mah tara midua.” Imbuh Aweng. Menurut mereka bertiga, saat ini Si Santi tengah hamil. Hamilnya sang  primadona menjadi rumor tersendiri bagi ketiga guide ini. Mereka iseng menduga-duga siapakah pejantan tangguh yang melakukan perbuatan mesum tersebut. Dugaan kuat mengarah antara Si Boni dan Si Bingkeng, “ Soalna Si Santi sok aya di dua rombongan eta. Najan si Berengut keur ngetop, jigana si Santi mah moal daekeun, da si eta mah beungeutna na oge ‘ndeso pisan jeung kucem” Ujar Adeng diambut gelak tawa rekannya

Senin, 22 Maret 2010

Ngawayang Dari Spanyol, Perancis sampai Wayang Multikultur.

Oleh Pandu Radea



             
          
            Udara dingin kota Paris langsung menyergap dan tak memberi kesempatan bagi Tim Wayang Ajen Indonesia yang kelelahan setelah terbang 17 jam lamanya untuk  menarik nafas lega. Pengukur suhu menunjukan angka 5 derajat celcius. Awal yang cukup merepotkan bagi tubuh-tubuh tropis untuk beradaftasi. Beruntung, 10 menit menunggu di luar Bandara Paris Airport, Bruno Sabalat dan Cyril Mary dengan mini bus nya langsung menjemput Tim Wayang Ajen yang terdiri dari Wawan Gunawan S.Sn (Dalang), Pandu Radea (Artistik/Pemusik), Dini Irma Damayanthi (Penari), Agus Rustandi (Pemusik), Karyana (Pemusik) dan Andris Adithra (Pimpro) untuk membawa anggota tim yang mulai kedinginan ketempat yang lebih hangat.
             
          Ini adalah lalampahan ke 24 kalinya Wayang Ajen melanglang dunia sejak pertama kali saba nagara pada tahun 2000 untuk menjalankan misi kebudayaan Indonesia. Dan di Tahun 2009 ini, sebelum terbang ke Perancis, Pada bulan April sampai Mei, Wayang Ajen juga tampil sukses dalam Festival International de Titeres de Canarias di Spanyol yang diikuti 5 negara Eropa. Saat itu, Tim Wayang Ajen hanya didukung oleh 4 orang seniman saja (Wawan Gunawan, Tavip Lampung, Dodong Kodir dan Pandu Radea).

Kendati demikian, pertunjukanWayang Ajen dianggap yang paling sukses. Hal itu diungkapkan oleh ketua panitia festival, Dominggo Borges dan Fransisco Brito yang menyatakan kepuasannya. Menurutnya 8 kali pertunjukan Wayang Ajen di Kepulauan Canarias (Los Realejos, El Sauzal, El Rossario, Santa Cruz de La Palma, Aguimes dan Madrid), baik itu di Gedung Kesenian maupun di panggung terbuka,  selalu dipenuhi oleh penonton. Adanya interaksi langsung antara penonton dan tokoh wayang (terutama tokoh panakawan) dinilai sangat menarik. Wawan Ajen sebagai dalang yang sarat pengalaman international, memang selalu mengajak penonton untuk berkomunikasi. Heureuy si Cepot terbukti ampuh untuk membuat penonton selalu tertawa.
  
Rupanya, dampak dari kesuksesan di Spanyol membuat UNESCO  melalui ANCT (Association Nationale Cultures et Traditions) Perancis sejak tanggal 4 sampai 18 Desember mengundang Wayang Ajen untuk mengenalkan seni wayang di Negeri Menara Eiffel  itu. Adalah Arsena Media Kreasi, event organiver Indonesia sekaligus mitra ANCT Perancis yang memfasilitasi keberangkatan Wayang Ajen kali ini.

Andris Adhitra, menilai bahwa Wayang Ajen memiliki track record pengalaman luar negeri yang sangat baik. Tercatat tahun 2002 Wayang Ajen tampil sebagai yang terbaik dalam “The Asia Erope Puppet Festival” di Bangkok.  Kemudian tahun 2008, Wayang Ajen meraih 2 medali Emas untuk katagori dalang terbaik dan Excellent composer ditambah satu medali perunggu untuk cerita lakon dalam even ”The First Marionette Festival” 16-24 Februari 2008 di Hanoi- Vietnam.
             
          Kali ini misi yang diusung adalah mengenalkan lebih luas lagi seni wayang Indonesia yang telah dikukuhkan oleh UNESCO dalam program Introducing the Wayang Puppets Theatre as a Masterpiece of Oral and Intangible Heritage. Memang sejak 7 November 2003, Seni Wayang Indonesia telah ditetapkan sebagai karya adiluhung sekaligus budaya Takbenda warisan manusia oleh UNESCO di Paris.

Dan mengenalkan seni Wayang Indonesia ke wilayah yang lebih luas merupakan program yang terus dilaksanakan oleh lembaga PBB ini.Untuk misi kali ini, selama 13 hari Wayang Ajen akan menyambangi 5 kota di Perancis yaitu, Orleans, Gannat, Verdun, St. Hilaire, dan Champs, dengan agenda kegiatan berupa workshop di 10 sekolah , 5 pagelaran wayang dengan lakon Ramayana, serta 5 kali pameran seni kerajinan Indonesia di masing-masing kota.
             
          Terbatasnya anggota tim yang berangkat membuat Wayang Ajen harus memformat pertunjukan menjadi minimalis. Selain lakon yang di ekstrak menjadi 1 jam lamannya, unsur musik dan waditranya pun harus disesuaikan dengan kapasitas yang terbatas, namun tidak menghilangkan esensi seni wayang Indonesia. Gending wayang yang biasanya dimainkan dengan gamelan, akhirnya diwakili dengan 1 set kecapi pelog dan salendro, kendang, rebana, goong, suling dan cymbal.
             
          Goong dan kendang dipinjam dari KBRI di Paris,  2 waditra ini tidak bisa dibawa dari Indonesia karena membebani jatah bagasi pesawat, termasuk juga terbatasnya  biaya transportasi . Yang terhitung utuh adalah perlengkapan dalang. Hal itu membuat Wawan Ajen sebagai dalang dapat memainkan fungsinya dengan baik. Adanya keterbatasan tersebut membuat pertunjukan menjadi tidak utuh. Namun, dengan konsep yang sudah dimatangkan di tanah air, setiap pertunjukan selalu sukses. Penonton mampu memahami dan menangkap essensi dari pertunjukan yang hanya didukung oleh 5 orang seniman saja.

Dan, gambaran kongkrit dan informasi yang sesungguhnya tentang pertunjukan wayang di Indonesia, selalu disampaikan baik sebelum acara dimulai maupun disaat audensi dengan penonton. Ditambah lagi, Tim Wayang Ajen selalu membagikan rekaman video pertunjukan seni wayang golek yang sesungghuhnya. Hal tersebut untuk mengindari kesalahan presepsi penonton tentang pertunjukan wayang  di Indonesia.
             
           Hal ini berbeda dengan konsep yang ditampilkan Wayang Ajen pada beberapa even festival di negara-negara sebelumnya, yang lebih menitikberatkan musik digital sebagai pengganti gending wayang. Maka di Perancis, irama gending secara live menjadi sebuah keharusan. Hal tersebut berkaitan dengan selera masyarakat perancis yang lebih menyukai sesuatu yang alamiah dan manual. Hal itu mungkin dilatar belakangi oleh kerinduan hal yang  natural dan manusiawi, mengingat kehidupan kota-kota besar di Perancis mulai disesaki dengan tekhnologi yang menggantikan peranan manusia.

Kota Demi Kota        
             
Daun-daun maple tampak berguguran. Berserakan akibat hembusan angin, dan tercecer sampai ke lorong-lorong jalan yang terbuat dari batu. saat ini adalah musim gugur atau dalam istilah Perancisnya disebut Automne yang berlangsung dari tanggal 21 September sampai tanggal 21 Desember. Setelah automne atau autum, baru kemudian masuk ke musim dingin atau hiver yang berakhir pada tanggal 20 maret.   

Kota yang pertama di jejaki adalah Fleury les Aubrais. Kota ini berada di wilayah Orleans. Tim Wayang Ajen langsung disambut hangat oleh para petinggi kota.  Seorang Pria tua bernama Peter Bauchet menyambut tim Wayang Ajen dengan ramahnya. Ternyata pria sederhana itu adalah walikota Fleury. Satu hal lagi yang berkesan selama di Fleury adalah saat kami diajak oleh panitia setempat untuk menjelajah sudut-sudut kota  Orleans yang banyak menyisakan peninggalan sejarah. 
            
            Menyusuri jalanan batu di pusat Orleans rasanya seperti terlempar ke jaman para ksatria, tatkala Perancis dicekam konflik peperangan seratus tahun  melawan Inggris dan Burgundi. Dalam sejarahnya, pada tahun 1429 hampir seluruh bagian utara dan barat daya Perancis telah dikuasai oleh Inggris dan Burgundi. Untuk menguasai Paris, Inggris melakukan pengepungan terhadap kota Orleans yang merupakan daerah strategis dan penghalang terakhir untuk menguasai jantung kerajaan Perancis yaitu Paris . Kota Orleans  ini terletak di dekat Sungai Loire.

Sukses melaksanakan 3 kali workshop dan menggelar pertunjukan perdana di Fleury, tim wayang ajen meluncur menuju Gannat yang berjarak  sekitar 200 km dari Fleury. Di kota inilah ANCT berkantor, yaitu di gedung Maison du Folklore no. 92. Jean Roche sebagai direktur ANCT dan Gedung Kasenian Gaston Riviere, bersama Maria Agnes dan semua staffnya menyambut ramah kedatangan tim Wayang Ajen.  Bruno Sabalat dan Didier pun ternyata seniman yang bekerja di gedung ini.  Mereka berdua adalah orang yang memandu tim Wayang Ajen selama di Perancis. Didier adalah seniman yang menggantikan Cyril Mary. Dirinya bertugas menjadi supir, juga merangkap sebagai  penata lighting dan sound untuk setiap pagelaran Wayang Ajen.

di Gannat suhu dingin semakin menusuk mendekati 0 derajat celcius, dan akhirnya salju mulai turun. Tidak heran, daerah ini berada di wilayah pegunungan Auvergne yang merupakan  pegunungan berapi satu-satunya di Perancis yang saat ini sudah tidak aktif lagi. Yang surprais adalah kehadiran Sarah Anais Andrieu. Gadis yang berasal dari daerah Lyon ini sangat pasih berbahasa Indonesia dan Sunda, termasuk heureuyna. Bahkan sangat mengenal seni Wayang Golek. Ternyata Sarah lama di Indonesia, dan belajar karawitan di STSI Bandung. Gadis berusia 27 tahun ini tengah menyelesaikan S3 dengan dasar penelitian wayang golek sunda di Jawa Barat.

Kehadiran Sarah untuk membantu Wayang Ajen. Membuat komunikasi antara panitia dan tim semakin mantap. Sarah yang humoris bercerita banyak tentang Perancis. saat di Fleury, Wayang Ajen  juga dibantu oleh salah seorang penonton yang fasih berbahasa Indonesia berama Sisi. Gadis ini ternyata pernah belajar wayang kulit di Solo setahun yang lalu.

Maison d Folklor adalah gedung kesenian yang banyak menyelenggarakan even international setiap tahunnya. Tahun 2008 rombongan kesenian Bali dan Papua pernah diundang juga ke Gannat untuk mengikuti festival International Tari Tradisi. Di Gedung inilah ANCT  menjalankan program-program kebudayaan di bawah kordinasi UNESCO.

4 hari 3 malam Tim Wayang Ajen tinggal di Maison d Folklor. Setiap hari Wayang Ajen menjalani kegiatan workshop ke berbagai daerah di kawasan kota Gannat. Dan Kegiatan workshot tersebut selalu disambut gembira oleh anak-anak. Mereka sangat menyukai bentuk dan karakter wayang golek. Selain wayang golek merekapun diajarkan beberapa gerakan tari  oleh Dini Irma dan Asih Mayasari. Salah satu pertunjukan yang mengesankan adalah ketika Tim Wayang Ajen tampil pada pesta  tradisi menyambut natal di Desa  Champs. Menurut Maria Agnes pertunjukan Wayang Ajen itu  sebagai hadiah bagi penduduk Champs yang sangat menghargai seni tradisi.

Pertunjukan Wayang Ajen berikutnya diselenggarakan pada hari terakhir kami tingal di Gannat . Ini merupakan sajian utuh yang disuguhkan kepada penonton yang telah mengikuti workshop di hari-hari sebelumnya. Pada pertunjukan yang juga dihadiri oleh tokoh-tokoh budaya di Gannat, Wayang Ajen mampu tampil maksimal.  Apalagi sebelum pertunjukan dimulai, Sarah Anais melakukan presentasi tentang Seni Wayang Golek Indonesia.

Dari sekian penonton yang hadir, Jean Roche adalah orang yang paling terkesan. Tokoh kebudayaan Perancis ini ternyata dapat memahami sampai nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam seni wayang golek. Seni Wayang sebagai bayangan dari kehidupan manusia. Jean memuji habis Wawan Ajen sebagai dalang yang mampu menghidupkan karakter setiap boneka. Menurutnya, Boneka yang dimainkan Wawan seolah bernafas. Gerak-geriknya betul-betul seperti manusia. Akhirnya Jean Roche menegaskan bahwa seni Wayang Golek  adalah seni boneka yang luar biasa.

Tanggal 10 Desember kami masih menikmati kota Gannat. Saya dan Wawan Ajen di ajak oleh Bruno ke kota Vichy untuk berjumpa dengan beberapa seniman boneka yang tergabung dalam kelompok Lye Fil Studio. Di tempat ini kami bertukar pikiran tentang perkembangan seni boneka masing-masing negara. Wawan Ajen pun berkolaborasi memainkan beberapa boneka yang dibuat oleh Peter UHL. bersama 2 orang rekannya, Bernadette Bataille dan Marie Laure. 

Peter ternyata mengenenal Wayang Golek. Ia mengetahuinya dari buku yang berisi data seni boneka se dunia.  Kolaborasi semakin menarik saat Wawan, Peter, dan Bernedit mencoba improvisasi dengan bahasa gerak, diiringi irama akordeon yang dimainkan Bruno Sabalat.

Pertunjukan terakhir Wayang Ajen adalah di kota Verdun. Berjarak 500 km dari Gannat. Verdun adalah kota bersejarah di Perancis yang pernah mengalami tragedi kemanusiaan akibat perang dunia pertama. Kota ini adalah bekas wilayah yang dijadikan kancah khurusetra antara Perancis dan German tahun 1916. selama 10 bulan, kota ini dihajar tanpa henti oleh berkecamuknya perang. Selama Perang Dunia I, total penggunanan senjata sekitar 40 juta peluru artileri dari kedua belah pihak selama pertempuran.

Menurut Nawakowski Victor, seniman Verdun yang memandu kami, Ada 10 desa yang hancur lebur. 600 ribu orang terluka dan 400 ribu meninggal. Yang meninggal tanpa diketahui identitanya juga mencapai ribuan. Semuanya terlihat saat Tim Wayang Ajen mengunjungi bekas-bekas lokasi pertempuran. Seperti Fort Douaumont,  Musium Memorial de Verdun, dan Monumen peringatan korban perang.

Suasana ngeri terbayang saat mengunjungi monumen korban perang, bangunan besar yang mirip kapal selam dengan menaranya yang tinggi ternyata berisi ratusan ribu tulang belulang manusia korban perang yang tidak dapat diidentifikasi lagi, bertumpuk seperti tumpukan kayu bakar. Sementara didepan monumen terhampar luas kompleks pemakaman korban perang lainnya.

Setelah melaksanakan serangkain workshop  di Verdun, maka tanggal 17 Desember kegiatan  Wayang Ajen ditutup dengan pementasan terakhir. Pementasan pamungkas ini merupakan pagelaran yang penontonya paling banyak. Usai pagelaran, Bruno Sabalat yang mewakili ANCT dan Panitia setempat kembali menyatakan kepuasannya.  Dan mereka berharap tahun depan Wayang Ajen dapat tampil kembali di Perancis.

Wayang Multikultur
             
          Wayang Ajen yang diciptakan oleh Wawan Gunawan dan Arthur S. Nalan tahun 1996 ini memiliki prinsip dinamis dalam mengembangkan kreatifitasnya. Berangkat dari pemahaman tradisi Wayang Golek sunda, kelompok ini selalu berusaha untuk menyelaraskan paradigma antara ketradisian dan kekinian. Wawan sebagai kreator dan dalang,  tidak fanatik untuk membatasi eksplorasi Wayang Ajen bergaul dengan beragam seni nusantara.
             
          Disisi lain, Wayang Ajen  pun kerap tampil dalam format ketradisiannya. Pertunjukan yang dilaksanakan 2 hari setelah pulang dari Perancis (19 Desember) pada even Festival Wayang Nusantara di Halaman Musium Fatahillah Jakarta, menjadi bukti bahwa Wayang Ajen tidak lari dari bahasa simbol yang menjadi kekuatan tradisi. Dihadapan ribuan penonton, Wayang Ajen dengan  lakon Kresna Gugah mampu menjerat penonton dengan pakem dan tetekon sampai akhir pagelaran.
            
           Dua minggu berikutnya, Wayang Ajen tampil di Padepokan Putro Pendowo Bekasi. Kali ini, Wayang Ajen berkolaborasi dengan Wayang Kulit Gagrak Surakarta. Dua dalang dari genre berbeda yaitu Wawan Ajen dan Bambang Asmoro bekerjasama memperkuat alur cerita Dasamuko Gugur (Ngalengko Brubuh) menjadi sebuah pertunjukan yang multukultur.
             
          Wayang Kulit dengan kekuatan bahasa simbolnya dan wayang golek dengan bahasa verbalnya bertransformasi menjadi pertunjukan yang menghibur dan mempersatukan penonton yang juga multi etnik. Warga Betawi dan Batak pun terwakili dengan tampilnya tarian Jalipongan (jali-jali Jaipongan) dan lomposisi lagu Sinandang Tulo.
             
          Dengan menciptakan suasana multikultur ini, sedikitnya memupus dikotomi seni wayang yang cenderung hanya bisa dinikmati dan dimiliki  kalangan Jawa dan Sunda saja. Hal ini bagi Wayang Ajen merupakan salah satu upaya untuk memperluas wilayah pengenalan  seni Wayang golek  agar dapat diterima di berbagai kultur masyarakat. 
             
           Kiprah Wayang Ajen baik di dunia International maupun di dalam negeri cenderung merupakan upaya mandiri yang tidak bergantung kepada lembaga maupun organisasi wayang yang ada di Indonesia. Wayang Ajen dapat dikatakan tumbuh dan berkembang dengan jalur kemandirian sehingga mampu menembus batas etnik, bangsa dan negara.

 Sedangkan disisi lain adanya organisasi wayang di Indonesia yang seharusnya mampu mengayomi berbagai jenis kesenian wayang, dirasa masih belum memberi dampak banyak bagi pertumbuhan dan perkembangannya. Masih adanya kecendrungan dikotomi terhadap seni wayang terlihat dari ketidakseimbangan perhatian terhadap seni wayang yang semakin terpinggirkan, seperti Wayang Kulit Cirebon, Wayang Kulit Indramayu atau Wayang Kulit Palembang, dengungnya semakin tidak terdengar. Kecendrungan adanya selera pribadi atau golongan yang mempengaruhi kebijakan nasional, membuat pengembangan seni wayang di Indonesia tidak menyentuh akar-akarnya

Demikian pula dengan pemerintah yang terkesan membiarkan pertumbuhan seni wayang seadanya. Bagi Wawan, hal itu menimbulkan sebuah pertanyaan besar, sejauh mana peranan pemerintah dan organisasi wayang dalam pertanggungjawaban terhadap bantuan dan penghargaan UNESCO untuk pelestarian dan pengembangan  wayang yang telah diproklamirkan sebagai masterpiece dunia ?

Penulis adalah Anggota Tim Wayang Ajen Indonesia.

Kolaborasi Wayang Ajen dengan Tari Bedoyo Dorodasih


MEMBANGUNKAN WAYANG KERAMAT
Oleh Pandu Radea



Senja merangkak kelam. Suasana di TMII terlihat sepi. Pasalnya ini hari kerja. Orang-orang kurang berminat untuk bertamnasya. Namun lain bagi turis asing. Kesempatan menikmati TMII terasa lebih leluasa dihari-hari sepi seperti ini. Mangkanya beberapa rombongan turis lebih sering terlihat lalu lalang ketimbang wisatawan domestik. Seperti  hari ini, 15 Februari 2010. Suasana jalan sekitar Sasana Adirasa Pangeran Samber Nyawa terlihat lengang. Serombongan turis Korea  tertarik melihat kesibukan kecil yang terjadi dihalaman gedung. Mereka menghampiri dan sedikit sungkan mengintip dari celah-celah dinding yang dipenuhi ornamen ukiran. 

Sasana Adirasa merupakan tempat ibadah kaum penghayat aliran kepercayaan dan kebatinan. Sedangkan nama Samber Nyawa diambila dari tokoh bernama Pangeran Samber Nyawa yang merupakan tokoh bangsawan dari Surakarta. Tokoh ini  terkenal sakti dan ahli strategi perang yang tidak mau bekerjasama dengan VOC. Nama aslinya Raden Mas Said, namun setelah perdamaian Salatiga dan diangkat menjadi raja Mangkunegaran bergelar KGPAA Mangku Negara I.

Keseluruhan bangunan tak ubahnya pendhapa besar bangunan Jawa yang luas sehingga bisa dimanfaatkan untuk berbagai acara yang bersifat spiritual. Secara rutin tempat ini digunakan oleh penghayat kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa di bawah Direktorat Jenderal Pembina dan Penghayat Kepercayaan untuk melakukan sarasehan pada setiap Selasa Kliwon (Anggoro Kasih), dan kegiatan ritual 1 Suro yang diselenggarakan setiap tahun.

Pentas ini memang berbeda dan memiliki makna spiritual budaya yang unik. Disebut unik karena pagelaran ini dilakukan pada malam Anggoro Kasih yang diselenggarakan oleh kaum penghayat aliran kepercayaan dan kebatinan serta dihadiri oleh anggota dari berbagai wilayah. Tokoh-tokoh dari Buleleng (Bali) dan Sumatra pun tampak hadir.  Walau diselenggarakan oleh penganut Kepercayaan, kegiatan ini pun mengundang beberapa tokoh dari agama lain, seperti Islam, Hindu dan Budha, sebagai  sikap toleransi dan kerukunan umat beragama di Indonesia.

Malam Anggoro Kasih yang diselenggarakan kali ini memang terasa berbeda dari penyelenggaraan sebelumnya. Yang menjadi khas adalah tampilnya Wayang Ajen yang berkolaborasi dengan Tari Bedoyo Dorodasih. Kolaborasi diatas mungkin sesuatu yang jarang terjadi bahkan mungkin dapat dikatakan baru, tatkala wayang golek bersinergi dengan Tari Bedoyo Dorodasih yang merupakan tarian sakral nusantara lambang keagungan Tuhan YME. Konon penarinya harus ganjil jumlahnya. Dan penari tunggal yang tampil bersama Wayang Ajen adalah Kanjeng Pangeran Sulistyo Tirtokusumo. Direktur Kesenian Direktotar Jendral Nilai Budaya Seni dan Film, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisatwa.

Hal menarik lainnya adalah, baik Wayang Ajen maupun Tari Bedoyo Dorodasih ternyata dijadikan media pertunjukan untuk membangkitkan kembali tiga buah wayang golek kuno (disebut-sebut juga sebagai wayang keramat) yang telah tidur atau tidak dimainkan selama 25 tahun. Wayang ini awalnya tersimpan di  kantor lama Direktorat Kesenian di Jalan Kimia Jakarta Pusat, kemudian tahun 2008 di pindahkan ke kantor Direktorat Kesenian yang berada di  Gedung E komplek Depdiknas lantai 9. Ketiga Wayang Golek itu menurut  analisa Wawan Ajen jenisnya adalah Wayang Golek Gambyong

Pertunjukan kolaborasi tersebut memiliki makna positif untuk menggugah kesadaran akan makna dan nilai spiritual seni wayang yang adiluhung. Membangunkan, mengandung arti menumbuhkan semangat baru dalam merevitalisasi pentingnya peranan wayang di masyarakat. Menarikan, artinya menghidupkan kembali makna wayang serta menegaskan fungsi wayang sebagai media seni pertunjukan. Mendudukan, yaitu menempatkan wayang dalam jagad pentas yang layak untuk dibanggakan sebagai kesenian bangsa Indonesia yang diakui oleh dunia International.
 
Dilihat dari busana dan bentuk wayangnya. Wayang Golek Gambyong pernah berkembang di wilayah Yogyakarta. Namun saat ini, sudah langka sekali dipentaskan. Bahkan identitasnya, kini semakin samar. Sedangkan yang dikenal saat ini adalah Tari Golek Gambyong. Menurut Rudy Wiratama Partohardono, pemerhati wayang asal Surakarta, Wayang Gambyong sebetulnya merupakan jenis wayang golek yang lazim digunakan untuk menari "gambyong" di akhir pagelaran wayang kulit, dan sampai sekarang pun masih banyak, terutama di Yogyakarta. Bentuknya berbeda sedikit dengan wayang Menak Yogyakarta yang semua tokohnya "menutup aurat" dengan baju lengan panjang,

Sedangkan wayang golek Gambyong memakai kemben saja seperti penari gambyong umumnya, selain itu riasan wajah dan bentuknya pun mendekati realita (untuk ukuran saat itu), jadi bisa dibilang anatominya adalah anatomi Loro Blonyo, bukan anatomi wayang golek biasanya. keterangan lain menyebutkan bahwa wayang jenis ini dipentaskan untuk menggantikan fungsi gambyong yang pada zaman lebih dahulu lagi ditarikan oleh pesindennya sendiri.

Tiga wayang golek Gambyong yang akan di tampilkan terdiri  dari satu wayang putri dan sepasang wayang pengantin. Kontruksi dari pertunjukan itu adalah membangunkan, menarikan dan mendudukan kembali Wayang yang lama tidak dipertunjukan sebagai upaya untuk menghidupkan kembali eksistensi seni wayang di Indonesia. Kontruksi ini akhirnya menjadi simbol spiritual bagi penonton untuk menggali serta mengingatkan akan fungsi wayang dan kandungan filosofisnya.

Dilihat dari fisiknya,  Rudy mendukung pada pendapat Wawan. Dirinya mendeskripsikan ketiga wayang yang berhiaskan intan, badan diperada emas, bentuk kepala bulat torak, ukiran telinga realistis, posisi jari "ngrayung" seperti pada tarian Jawa, dan proporsi tangan sampai paha, diperkirakan berasal dari Jawa Tengah pedalaman (mungkin Solo atau Yogya), bukan dari Pesisir Lor. Perhiasan mewah yang mengghiasi wayang golek itu diperkirakan hasil sentuhan bangsawan pemiliknya. Dan mayoritas bangsawan yang memiliki sentuhan ”nyeni" itu berada di daerah sentra-sentra kebudayaan keraton macam Solo dan Yogya.


Wayang Ajen dan Tari Bedoyo Dorodasih
            
          Pertunjukan Membangunkan Wayang Keramat dikemas dalam bentuk ritual. KP Sulistyo membuka ritual dengan Tari Bedoyo Dorodasih. kemudian Wawan Ajen bersama dua orang catriknya, menerima wayang dari KP Sulistyo dan membawa wayang keramat ke jagat alit.  Gununganpun di cabut dan Wawan menampilkan wayang maktal terlebih dulu unutk menari bersam KP Sulistyo.  Setelah itu ketiga wayang mulai di ibing keun. Terakhir, adegan dipungkas dengan sawer kembang 7 warna oleh KP Sulistyo, dan Wawan pun menutupi ketiga wayang itu dengan kain putih.
             
          KP. Sulistyo Trtokusumo, selain menjabat sebagai Direktur Kesenian di Dirjen Nilai Budaya seni dan Film, juga seniman tari yang karyanya dikenal kritis terhadap pemerintah. Padahal KP. Sulistyo pernah menjadi penari di Istana Negara era Presiden Soeharto. Sejak berkiprah menjadi koreografer, ia sudah membuat 10 karya. Karya yang paling berkesan dan kerap dipertunjukkan hingga ke luar negeri adalah berjudul ‘Panji Sepuh’ yang dibuat tahun 1993. Kisahnya, lagi-lagi soal kesepuhan pemimpin yang  seharusnya mengayomi masyarakat. Gelar Kanjeng Pangeran diberikan oleh Sri Susuhunan Pakubuwono XIII pada 28 Juli 2008 di Solo. Karena Sulistyo yang dilahirkan di Kota Solo, 6 Juli 1953, dianggap telah melestarikan nilai-nilai kebudayaan leluhurnya.

Sedangkan Wayang Ajen yang diciptakan oleh Wawan Gunawan dan Arthur S. Nalan tahun 1996 ini memiliki prinsip dinamis dalam mengembangkan kreatifitasnya. Berangkat dari pemahaman tradisi Wayang Golek sunda, kelompok ini selalu berusaha untuk menyelaraskan paradigma antara ketradisian dan kekinian. Wawan sebagai kreator dan dalang,  tidak fanatik untuk membatasi eksplorasi Wayang Ajen bergaul dengan beragam seni nusantara. Wayang Ajen pun merupakan kelompok Kesenian Wayang yang sering diundang tampil di luar negeri membawa misi budaya Indonesia.
             
          Pertunjukan yang berdurasi 30 menit itu mendapat sambutan hangat dari seluruh penonton yang memenuhi  Sasana Adirasa. Kendati sederhana, namun makna yang terkandung dijadikan bahan seminar peserta malam Anggoro Kasih. Wayang Ajen sebagai penampil, lebih memaknai pertunjukan sebagai peristiwa seni budaya yang khas karena baru pertama kali tampil dengan konsep pagelaran seperti itu, namun hal tersebut juga menjadi upaya untuk mewujudkan misi Wayang Ajen sebagai Wayang Multikultur. Lain halnya dengan penganut Kepercayaan, pagelaran itu memiliki makna spiritual yang berkaitan erat dengan keyakinan  yang mereka anut.
             
         Suasana ritual memang telah terbentuk dengan penataan artistik yang menjadi setting panggung. Kemenyan, kembang 7 warna, berbagai sesajen, pelita janur, dan pernak-pernik ritual lain yang membuat suasana terasa semakin sakral. Hal itu memang sengaja dibangun untuk menghadirkan aura kontemplatif yang menggiring penonton kedalam visi pertunjukan. Apapun tafsirnya, menggugah kesadaran untuk mencintai seni wayang adalah tujuannya.   

Kolaborasi Wayang Ajen dan Tari Bedoyo Dorodasih berawal dari gagasan Wawan Ajen dan KP. Sulistyo Tirtokusumo, yang ingin mengaktualkan kembali seni wayang dalam konsep pertunjukan yang  berbeda. Hal ini dimaksudkan sebagai upaya mempersatukan wawasan, bahwa Seni Wayang selalu memiliki ruang dan tempat yang luas. Seni Wayang akhirnya tidak menjadi dikotomi suku tertentu saja, namun dapat dimiliki oleh bangsa Indonesia yang multikultur. Sudah selayaknya semua jenis wayang di Indonesia yang jumlahnya lebih dari 60 dilestarikan dan di hidupkan kembali, untuk menjadi kebanggaan sekaligus sebagai identitas bangsa Indonesia.
            
Penulis adalah sutradara pertunjukan ”Membangunkan Wayang Keramat”

Sabtu, 06 Maret 2010

Cuplikan Longser Wayang Sangkala

video

Upacara Ritual Nyangku

 Oleh Pandu Radea
Nyangku, Nyaangan Laku di Kota Embun Panjalu
          Tulisan ini adalah hasil liputan pada Kegiatan Upacara Ritual Nyangku 3 tahun yang lalu. Dimuat sebagai Liputan Khusus pada  HU Priangan. Pada kesempatan ini ditampilkan kembali, sekedar memberi gambaran tentang Ritual Nyangku, terutama bagi pembaca yang belum tahu tentang kegiatan tradisi yang rutin diselenggarakan setiap bulan Maulud ini. Semoga bisa bermanfaat.

          Langit lenglang, sinar matahari leluasa menghangatkan pagi yang dingin di Kota Embun Panjalu. Mangsa haneut moyan butir embun pun  mulai menguap seolah menjadi pertanda wanci nu mustari untuk mengawali Prosesi Ritual Upacara Adat Nyangku, yaitu tepat pukul 09.30 WIB. Bul ngukus asap kemenyan mengepul dari parukuyan bercampur dengan wangi minyak misik, zafaron dan cempaka tercium dari barisan panjang para pewaris adat yang sudah siap sejak pagi untuk lungsur (istilah memberangkatkan pusaka)  melaksanakan tradisi yang sudah berlangsung sejak ratusan tahun ini. Galindeng shalawat menggema handaruan bercampur dengan tepak gembyung membuat atmosfir Panjalu terasa dikungkung oleh rasa khidmat yang merasuk sampai hati sanubari. Langkah-langkah lambat rombongan pembawa pusaka seolah ngembat ajrih, tanda hormat pada sang leluhur Panjalu yaitu Prabu Borosngora, yang telah mewariskan ajaran Islam bagi masyarakatnya.

          Benda-benda yang akan dibersihkan merupakan pusaka utama warisan dari sejarah Islam yang dibawa oleh Prabu Borosngora setelah bertemu dengan Sayyidina Ali di Tanah Arab sekitar tahun 600 M. Pusaka tersebut diantaranya Pedang, Gentra, dan Kujang . Disamping itu  terdapat pula puluhan keris, pedang, dan tombak. Benda pusaka tersebut semuanya dibalut tebal oleh lapisan kain, dan dibawa dengan cara di ais menggunakan samping kebat yang melandungi tubuh sang pembawa pusaka seperti layaknya menggendong anak kecil. Selain unik, terasa pula adanya aura sacral yang memancar dan terasa oleh ribuan penonton yang hadir menyaksikan jalannya prosesi.

          Dibagian depan rombongan tampak barisan 40 orang Jagabaya mengawal pasangan Mojang dan Jajaka Kabupaten Ciamis, disusul berturut-turut  barisan Dede Yusuf berikut artis-artis Simpay diantaranya Edies Adela, Ica Afi, Riki Hermawan, Rico Garendra dll, Para petinggi pemerintahan dari tingkat desa sampai Nasional, tokoh masyarakat dan Pangeran Patih Kodiran yang mewakili Sultan Kanoman,  pembawa baki salin pusaka, disambung oleh iringan inti pembawa pusaka yang jumlahnya lebih dari 50 orang, diikuti 9 orang wanita pembawa kele yang berisi air keramat untuk siraman,  disusul penabuh gembyung Dusun Rumalega, dan dipungkas oleh aleutan masyarakat. Yang menarik adalah iringan pembawa kele berisi air untuk mencuci pusaka. air tersebut diambil dari 9 mata air yang terdapat di sabudeureun Panjalu sebagai symbol untuk meungkeut jalinan silaturahmi guna memupuk rasa persatuan dan kesatuan. Sedangkan pembawa kele itu sendiri adalah para wanita yang sudah menopouse. Dan yang menjadi pembawa pusaka adalah warga yang memiliki garis keturunan dari Kerajaan Panjalu.

          Aleutan pun bergerak pelan menuju Situ lengkong yang berjarak sekitar 600 meter dari Bumi Alit. Para tokoh dan pembawa pusaka pun kemudian menyebrangi situ menuju Nusa Gede untuk melaksanakan tawasulan di makam Hariang Kancana Dengan menaiki beberapa perahu, di dermaga Nusa Gede Rombongan disambut kembali oleh seni gembyung dari Dusun Dukuh yang sejak pagi tak henti meneriakan shalawat.. Selepas itu lalampahan pun dilanjutkan menuju alun-alun Panjalu untuk melaksanakan ritual pencucian pusaka di menara bambu setinggi 2 m yang berdiri di tengahnya. Sebelum dicuci seluruh pusaka dibariskan di atas kasur khusus diatas panggung khusus. Konon kasur yang dipergunakan untuk pusaka tersebut sudah lima tahun usianya dan selama itu tidak boleh dipakai tidur.

           Kemudian balutan kainnya dibuka dan satu persatu benda-benda tersebut di acungkan oleh RH. Atong Cakradinata, sesepuh dan keturunan dari kerajaan Panjalu. Sedangkan pedaran riwayatnya disampaikan oleh Ir. Enang Sumpena dan R.Edi Hernawan Cakradinata kepada khalayak ramai yang antusias mengikuti jalannya prosesi. Usai itu, maka pusaka-pusaka utama  yang terdiri dari Pedang, Kujang, dan Gentra (goong kecil) itu mulai dicuci di atas menara bambu oleh petugas siraman yang sudah berpengalaman.

          Momen inilah yang ditunggu-tunggu oleh para penonton. Pencucian pusaka merupakan puncak sugesti. Pengaruhnya mampu membuat warga berdesak-desakan berebut air cucian yang jatuh dari atas menara. Baik untuk di bawa pulang atau dibasuhkan langsung ke wajah, bahkan tidak sedikit yang meminumnya dengan keyakinan untuk ngalap berekah. Fenomena seperti ini memang selalu ada dan sulit untuk dihilangkan walau sudah dihimbau oleh para petugas bahwa air tersebut jangan dipergunakan untuk hal lain, apalagi diminum. Namun sebagian warga tidak peduli. Kenyataan seperti itu tidak berbeda dengan Pelal Panjang Jimat di Cirebon dan Sekatenan di Yogyakarta ketika air bekas ngumbah pusaka selalu diperebutkan karena dianggap memiliki barokah tertentu.

             Bersamaan dengan pencucian pusaka, dipagelarkan pula seni debus Sanhyang Panji Barani dari Desa Bahara. Pintonan debus tersebut untuk mengalihkan perhatian penonton agar tidak terfokus untuk mengambil air bekas mencuci pusaka. Upaya tersebut cukup berhasil karena warga yang berburu air bekas siraman terlihat semakin sedikit di banding tahun-tahun sebelumnya.  Selain dicuci oleh air dari 9 mata air, setiap logam pusaka juga dibersihkan menggunakan jeruk nipis untuk mencegah karat. Setelah bersih, maka pusaka-pusaka tersebut dikeringkan dalam kepulan asap kemenyan putih, lalu dibungkus daun kawung yang masih ada lidinya (khusus untuk menutupi seuseukeut pedang), kemudian dibalut kanteh (bahan benang, untuk menjaga kelembaban), terakhir di bebat oleh kain putih bersih minimalnya 3 rangkap dan maksimalnya 5 rangkap. Usai itu maka Prosesi Nyangku dapat dikatakan selesai seiring dengan mulih (istilah membawa pulang) pusaka-pusaka tersebut ke Bumi Alit untuk disimpan sampai Nyangku tahun depan.

          Esensi dari Nyangku adalah tanda syukur pada Allah SWT disamping mieling hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dalam filosofisnya, RH Atong Cakradinata mengatakan bahwa Nyangku adalah cermin untuk merevitalisasi kembali prilaku hidup dengan berpedoman kepada “amar ma’ruf nahi munkar”   Sedangkan secara lahiriahnya Nyangku merupakan upaya untuk merawat dan melestarikan benda-benda peninggalan sejarah Kerajaan Panjalu agar tidak rusak, baik oleh alam maupun waktu.***


Benda Pusaka Panjalu, Symbol Penegakan Ajaran Islam

          Yang paling diutamakan dalam prosesi Nyangku adalah pencucian Pedang yang diwarisi dari Sayidina Ali r.a. sebagai tanda mata kepada Prabu Borosngora yang telah menerima langsung ajaran Agama Islam sekaligus sebagai perlengkapan tugas dalam perjuangannya menyebarkan agama Islam.  Bukti bahwa pedang ini berasal dari Sayiddina Ali r.a, dibilahnya tertulis  3 kalimat bahasa arab yang berbunyi : La Fabasirtha Ali Ya Ali al dzulfikaqar Wa Ali Wasohbihi Azma’in, Laa Syaefi Illa Dzulfiqar, Laa Fatta Illa Aliyya Karomallahu Wajnahu. Artinya : Ini adalah pedang milik Syaidinna Ali Karomallohu Wajhnahu. Pedang ini juga pernah diteliti oleh Ir. Suhamir, ahli purbakala dari pusat, hasilnya disimpulkan bahwa bahan logamnya bukan berasal dari Nusantara.

          Selain pedang, Syaidinna Ali Ra juga memberikan Ciss atau tongkat khotbah bermata dua terbuat dari besi. Menurut Kuncen Bumi Alit, Asep Enjen dan Aleh Aswir (mantan Kuncen Bumi Alit) pedang dan ciss ini pernah dirampas oleh gerombolan Kartosuwiryo pada malam Kamis di tahun 1955. Pedang tersebut ditemukan kembali di Gunung Sawal setelah gerombolan Kartosuwiryo berhasil dilumpuhkan oleh tentara RI. Sedangkan Ciss nya sampai saat ini hilang.  Selain pedang dan ciss, Sayidinna Ali juga memberikan semacam jubah. Namun menurut Enjen jubah tersebut sudah sangat rapuh karena dimakan usia. Selain ketiga benda tersebut terdapat pula Gentra yang diwarisi Borosngora dari leluhurnya. melihat bentuknya yang menyerupai alat kesenian bareng (Goong kecil), benda ini mungkin pada masanya berfungsi untuk ngagentraan (memanggil) saat akan memulai sidang musyawarah atau dakwah.

          Menurut RH. Atong Cakradinata, Pedang merupakan symbol perjuangan dalam menegakan agama Islam, sedangkan  ciss merupakan symbol dakwah dalam syiar Islam dan Gentra adalah perlambang musyawarah. Ketiga barang tersebut dimaknai sebagai Pusaka Panjalu. Menurut sejarah Panjalu ketiga benda ini diwasiatkan oleh Borosngora kepada rakyatnya saat akan pergi menjalankan syiar Islam. Sebelum berangkat Borosngora berpesan “Sing saha wae anak incu nu hayang jiarah ka kaula, teu perlu neangan dimana kaula dikuburkeun, tapi cukup nyaksian pusaka ieu. Tapi lain hartina kaula nyurup kana ieu benda, tapi kudu dilenyepan  yen pusaka ieu ciri perjuangan kaula neangan elmu jeung nyebarkeun agama Islam.”

          Atong juga mengatakan bahwa Prabu Borosngora adalah raja yang sangat menghargai ajaran Karahyuan dari para leluhurnya. Isi dan maknanya oleh   Borosngora kemudian diselaraskan dengan nilai-nilai agama Islam, seperti falsapah Mangan karana halal, Pake karana suci, Ucap lampah Sabenere. (Makan harus yang halal, kepribadian dan prilaku harus suci, perkataan dan perbuatan harus benar). Bahkan menurut Atong, kata makan tersebut memiliki makna yang luas, bukan sebatas arti lahiriah namun filosofisnya adalah apa yang dirasakan oleh pancaindra harus pada tempatnya agar perbuatan menjadi bersih dan suci. Selain itu, terdapat pula papagon lain yang berbunyi, Uriwah, Urinyah, Matanya, Baganya yang mengandung arti bahwa prilaku harus selalu kreatif inovatif, etos kerja yang tinggi, jangan bodoh keblinger, baik laki-laki dan perempuan harus saling asah, asih dan asuh.

          Papagon Karahayuan di Panjalu  memiliki relevansi yang termaktub dalam inskripsi baris terakhir Prasasti I Astana Gede Kawali yang isinya berbunyi, Aya ma nu pa (n)deuri pakena gawe rahhayu pakeun heubeul Jaya Dibuana. Tersiratnya hubungan antara Papagon Panjalu dengan Prasasti Astana Gede memberi gambaran bahwa antara Kerajaan Panjalu dan Kerajaan Kawali memiliki sebuah ikatan kuat***

  
 
Pasar Malam, Hiburan Tahunan Warga Panjalu

Bagi warga Panjalu yang tinggal di kota, Nyangku selalu dijadikan kesempatan untuk pulang kampung berkumpul bersama kerabat keluarga sembari aub dalam kemeriahannya. Sedangkan bagi yang tinggal di Panjalu, Nyangku adalah wahana yang yang mampu merubah suasana biasa menjadi luar biasa. Dengan Nyangku,  Panjalu menjadi terasa beda tisasari, bahkan kemeriahan Nyangku sama halnya dengan perayaan Lebaran.

Hal tersebut dapat dilihat sejak tiga minggu menjelang Nyangku, karena secara rutin panitia setempat yaitu Karang Taruna dan LPM Desa Panjalu selalu menggelar Festival Budaya Panjalu atau disebut juga Bazar dan Pasar Malam yang diisi aneka permainan seperti Komedi putar, Ombak Banyu, Mandi Bola, Kakapalan, jajanan, dan aneka jualan lainnya, selalu disambut hangat masyarakat yang berdatangan dari sekitar wilayah Panjalu ada pula yang sengaja datang dari luar kota, seperti dari Kuningan, Majalengka, Cirebon, Tasikmalaya, Garut, bahkan dari luar Jawa Barat. Alhasil adanya pasar malam ini membuat Desa Panjalu yang biasanya tiiseun bak kota mati dimalam hari, menjadi hidup berdenyut waldan menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakatnya.

Walau pada Nyangku kali ini lokasi pasar malam harus pindah menggunakan areal jalan di kampung Cimendong, karena tempat maneuh yang biasanya dipakai yaitu alun-alun Panjalu kini tidak dapat dipergunakan lagi karena areal itu telah dibangun menjadi taman budaya yang diperuntukan untuk kegiatan-kegiatan budaya saja, toh tidak mengurangi antusias warga untuk mengunjunginya. Pasar malam bagi warga Panjalu dapat dianggap sebagai hiburan tahunan yang selalu ditunggu. Tidak saja karena murah meriah dan rekreatif, pasar malam dan bazaar ini menjadi lahan bagi warga sekitar untuk dijadikan sumber penghasilan tambahan, baik untuk berjualan maupun menyediakan jasa lainnya. Seperti parkir misalnya.

“Kali ini bazzar dan pasar malam dikelola oleh Karang Taruna Kampung Cimendong, karena lokasinya bertempat di Cimendong. jumlah pedagang mencapai 75 stand yang disediakan panitia .” ujar Ketua Panitia , R. Haris Riswandi SE.  Pedagang-pedagang tersebut, kata Hendar, berasal dari Cirebon, Jawa, dan kebanyakan dari Padang ditambah beberapa pedagang warga Panjalu. Sedangkan grup korsel yang dihadirkan berasal dari Ciawi. Setiap pedagang dikenakan sewa sebesar Rp. 200 ribu/stand. Hasilnya, kata Hendar, akan dialokasikan untuk Prosesi Nyangku, Sub Karang Taruna Desa, Dan Karang Taruna Kampung Cimendong.

Mengenai lokasi baru tersebut, Haris mengatakan tidak ada perbedaan dengan di alun-alun. “Kelebihan lokasi sekarang stand-stand semuanya dapat dilalui oleh pengunjung karena bentuknya parallel dan tidak becek oleh air hujan.”  Papar Haris. Beberapa pengunjung sepakat dengan paparan Hendar, namun mereka menyoroti pula sempitnya jalur untuk lalu lalang karena stand-stand tersebut menyita hampir seluruh lebar jalan. Disamping itu gebyar dan kemeriahanya kurang terasa karena lokasinya agak tertutup oleh pemukinan penduduk, tidak terbuka seperti di alun-alun.

“Walau demikian pedagang umumnya merasa puas, karena mau dimana lagi. Lokasi ini berdekatan dengan alun-alun dan Bumi Alit. Kendala yang dihadapi saat ini hanyalah factor cuaca saja, karena  selama penyelelenggaraan Nyangku  waktunya selalu berbarengan dengan musim hujan dan itu sudah dianggap biasa.” Imbuh Haris Memang, Nyangku dan Pasar Malam seolah tidak dapat dipisahkan. Hal tersebut terasa saat Pasar Malam tidak dihadirkan pada Nyangku tahun 2006, sehingga kala itu banyak warga yang merasa kehilangan momen kemeriahan yang biasanya selalu dirasakan 2 minggu sebelum Nyangku.****

Nyangku Menepis Kemusyrikan

Upacara Nyangku merupakan ekspresi sejarah budaya  sekaligus peringatan hari kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW. Diselenggarakan Oleh Yayasan Borosngora, bekerja sama dengan Pemdes Panjalu, Disbudpar Ciamis dan didukung oleh kalangan masyarakat Panjalu.  Oleh karena itu, sebagai sebuah tradisi maka perayaannya selalu ditunggu-tunggu. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi daya tarik wisata yang mampu menyedot perhatian berbagai kalangan. Bahkan pejabat tingkat nasionalpun kerap menghadirinya. Kendati saat ini musim hujan, namun tidak mengurangi kegairahan masyarakat untuk mengikuti momen penting yang menjadi ikon sejarah di Panjalu dan sekitarnya.

“ Nyangku kali ini bertemakan Peningkatan Ukhwah Islamiah dalam Menghilangkan Kemusyrikan” Ujar Ketua Umum Panitia Nyangku, R. Edi Hernawan Cakradinata kepada Priangan. Tema tersebut untuk menepis adanya anggapan bahwa kegiatan Nyangku mendekati musyrik. Seperti misalnya air bekas mencuci pusaka yang dianggap memiliki barokah, atau adanya pengkultusan terhadap benda-benda pusaka.  Kegiatan Nyangku, kata Edi, semata-mata hanya kegiatan budaya untuk menghormati dan menghargai sejarah Islam di Panjalu, “Baik Yayasan Borosngora, pemerintahan desa maupun alim ulama,  selalu berusaha untuk  selalu mengikis prilaku sebagian masyarakat yang mempunyai fanatisme berlebihan tentang Nyangku.” imbuhnya
      
 “Salah satu antisipasinya adalah menampilkan seni debus bersamaan dengan memandikan pusaka sebagai cara untuk mengalihkan perhatian warga yang ingin mengambil air bekas mencuci. Namun lepas dari itu, semuanya dikembalikan kepada keyakinan masing-masing.” Untuk mengentalkan syiar Agama, lanjut Edi, maka beberapa hari sebelum Nyangku, diselenggarakan berbagai kegiatan religi. Yaitu : Muludan, Lomba Dakwah Remaja yang diikuti oleh 2 kecamatan (Panjalu dan Sukamantri), Marhabaan Anak-anak se Desa Panjalu, dan Tagoni Kampung Simpar. Malam harinya, bertempat di Bumi Alit diselenggarakan Tawasulan dan Barjanji dari Dusun Pabuaran, disambung Gembyung semalam suntuk. Sedangkan di Alun-alun ditampilkan seni Debus dari Banjarwaru

Aceng Ramli, salah seorang ulama di Panjalu, menyatakan bahwa Budaya harus dipisahkan dari agama. “Agama Islam adalah kemutlakan, tidak mungkin bathil sedangkan budaya itu relatif, untuk itu harus diusahakan jangan sampai menjadi musyrik. Dan Nyangku sebagai budaya harus dijadikan sarana untuk lebih memasyarakatkan agama “ Ujarnya. Lebih jauh Aceng mengatakan bahwa Nyangku berasal dari bahasa arab yaitu  yan ko yang berarti membersihkan. Benda yang bernilai sejarah memang harus dirawat dan dibersihkan agar lestari sebagai bukti bagi generasi selanjutnya agar tetap mengenal dan menghargai kandungan sejarahnya. Sedangkan Edi  mengatakan filosofis dari Nyangku ini diharapkan jadi lenyepaneun serta panggeuing bagi masyarakat Panjalu agar lebih membersihkan diri dalam menjalankan ajaran Islam, baik vertikal maupun horizontal. Sesuai dengan arti Panjalu yaitu Papagon Agama Nagara Jadikeun Amalan Lahir batih Ulah salah.

Selama bulan mulud ini  ceramah keagamaan diselenggarakan bergantian di setiap dusun. contohnya Kampung Pabuaran dengan mengundang Witrin Nur Justiatini, juara pertama Daiah TPI tahun 2006. Selain ceramah keagamaan tak ketinggalan alunan ritmis Gembyung yang terdengar berkumandang dari speker mesjid, seperti yang dilakukan oleh Kampung Sriwinangun. Seiring dengan itu pejiarah pun mulai berdatangan dari berbagai pelosok, terutama dari Jawa ke Situ Lengkong. Alunan syahdu shalawat kerap terdengar dari perahu yang mereka tumpangi mengelilingi Pulau "Koorders” (nama lain dari Nusa Gede) sebelum berjiarah ke makam Hariang Kancana.
           
           Sebagai tradisi budaya yang dianggap sakral, Nyangku memang menjadi magnet yang mampu menarik ribuan orang untuk datang. Baik untuk sekedar menonton maupun ikut larut dalam sugesti ritualnya. Berbagai media cetak dan elektronik local maupun nasional pun tak ketinggalan untuk mengabadikan momen budaya ini sebagai karya jurnalistiknya sehingga hasilnya dapat dinikmati lebih luas lagi sebagai salah satu kekayaan khazanah budaya  Indonesia sekaligus asset wisata Andalan Kabupaten Ciamis. ****

Rabu, 10 Februari 2010

WAYANG AJEN DI PERANCIS (2)

[Pandu Radea : Menjelajah Perancis]

LETS GO, TO EIFFEL


          Malam semakin dingin. Kaca tampak tebal oleh titik-titik air yang menempel. Namun lembabnya  cuaca tidak mampu menghalangi euphoria menyambut natal dan tahun baru. Jalanan yang basah dan rintik gerimis, tidak merintangi  pengunjung untuk menjelajah setiap sudut dan pusat keramaian di kota Paris yang semakin centil. Ibukota sekaligus salah pusat Trotoar mendenguskan ribuan derap kaki  bernada ritmik  Iramanya yang  monoton mengiringi berbagai ras manusia untuk berdesakan dan bergesekan, bergerak menuju pusat-pusat keindahan kota yang begitu menggoda.
 
           Mulut lorong-lorong bawah tanah setiap detik memuntahkan dan menyedot manusia yang akan dan telah menggunakan angkutan kereta api bawah tanah. Semuanya serba otomatis, peranan mesin sebagai pengganti manusia di sector transfortasi tampak begitu dominan. Tiket kreta seharga 2 euro telah di pegang masing-masing. Tiket dengan kode metro ini berlaku selama 12 jam. kita akan bebas naik kreta api kemanapun. Saya merasa menjadi si Cepot saba kota. Tiga kali tim yang dipandu oleh Herman berganti kereta. 
 
           Suatu kali kami muncul di sebuah taman yang diramaikan oleh pernak-pernik suasana Natal. lalu lalang dan kerumunan orang yang berseliweran diliputi suasana gembira dan ceria. menulari kami yang ngos-ngosan setelah menyusuri labirin bawah tanah yang nyaris terlihat sama. Kami sejenak berpose. Nyaris saja kami melupakan keberadaan masing-masing. Betapa tidak semuanya terlihat menarik, membuat kami sedikit terpencar untuk menikmati susanan sesuai selera masing-masing. Berkali-kali Herman mengingatkan agar kami tetap berada dalam rombongan. "Awas lho jangan sampai terpisah. ini di Paris, bukan di Jakarta. Disini ga ada Mikrole kalo tersesat susah nyarinya." ujarnya menegaskan. 
 
           Chryill yang bertubuh gemuk besar akhirnya menjadi patokan kami.  Karena lelaki berkacamata ini, mengenakan  tutup kepala sinterklas berbentuk per yang unik dan lucu. Katanya itu adalah oleh-oleh untuk anaknya. Jika ada diantara kami yang sedikit jauh dari rombongan,  maka tinggal mencari kepala Chryl  yang memang berbeda dan terlihat dari kejauhan. hal itu lumayan effektif. Puas menikmati taman yang bercahaya, kami menyusuri trotoar yang juga dipadati lalu-lalang manusia. 
 
 
           Entah berapa lama kami berjalan, yang jelas suasana kota yang meriah membuat kami melupakan  waktu dan jarak. akhirnya, kami melintasi boulevard jalan yang diujungnya berdiri angkuh Arc de Triumphe , gerbang  sekaligus tugu kemenangan Napoleon Bonaparte  itu terlihat  beridri kokoh dalam kemilau lampu warna-warni. Sayang, kami hanya melintasinya sesaat karena Herman Sitepu segera mengajak kami masuk kembali ke dalam lorong bawah tanah

          10 menit kemudian kami muncul kembali dipermukaan tanah. Kali ini pandangan kami tertuju pada bercakan cahaya yang berganti warna  terpancar tanpa henti, dengan segala pesonanya menara Eiffel tampak menjulang tinggi membelah langit gelap. Keindahannya telah membakar dingin dan rasa lelah akibat berjalan kaki cukup jauh. Sejenak kami terpukau. Karyana atau akrab di panggil Yana tampak komat-kamit, entah mantra apa yang tengah dibacanya. Agus berjalan ke beberapa sudut mencari tempat untuk berpose yang ideal. Wawan Ajen dan Dini langsung diselimuti suasana romantic. Mereka  menggumamkan lagu terlena milik Ridho Irama.  Sedangkan aku, sibuk kesana kemari menghindar dari pedagang Nigeria yang menawarkan cendramata.

          Hanya Herman, Andris dan Maya yang tidak terpengaruh oleh sihir Eiffel. Ternyata cindramata berupa gantungan menara Eiffel cukup murah.  Orang nigeri penjual cendramata itu akhirnya ditundukan oleh Dini Ajen yang memborong 30 buah gantungan Eiffel hanya seharga 5 euro.  Saya dan yang lainnya merasa menyesal tidak ikut membeli gantungan eiffel itu. Karena , cendramata khas Paris itu,  tternyata tidak akan kami dapati lagi dengan harga murah di kota-kota berikutnya.  2 jam lamanya kami menikmati keindahan menara Eiffel. Kendati dari jauh, namun kami cukup senang dan setelah puas, kami pulang ke penginapan . Malam itu kami tidur dengan nyenyak.  Sayangnya dalam jadwal pertunjukan, kami tidak jadi main di Paris karena waktunya tidak cukup.

         Tanggal 6 Desember Wayang Ajen meluncur menuju  St. Orleans untuk melaksanakan workshop dan pertunjukan.  Kota ini berjarak 100 km dari Paris dan ditempuh selama 1 jam lamanya. Kami telah di wanti-wanti oleh Bruno untuk melapisi baju hangat kami dengan jaket tebal yang sengaja dia bawa untuk kami karena di Orleans suhu bisa mencapai -2 derajat celcius. Rencananya kami akan tinggal di Orleans  selama 3 hari. Tepatnya di kota Fleury les Aubrais.  St Orlean adalah kota setingkat kabupaten. Sedangkan Fleury les Aubrais setingkat kecamatan. 

         Walaupun setingkat kecamatan, Fleury les Aubrais merupakan kota yang cantik dan rapih. Masyarakatnya disiplin dan tertib. Kedatangan kami disambut oleh para petinggi kota. Setelah peralatan pentas diturunkan di sebuah gedung pertunjukan, kami berkenalan dengan beberapa warga yang ternyata kemudian akan menjadi orang tua asuh kami selama di Fleury.  Jadi, setiap dua orang tim wayang ajen, akan tinggal di rumah warga yang telah diatur oleh panitia. Mirip home stay. Saya dan Andris tinggal di rumah  madam Sylvie Delarve. Karyana dan Agus tinggal bersama keluarga Bernard Neunier, Maya bersama keluarga Maryvo Nue, sedangkan Wawan Ajen dan Dini tinggal di rumah keluarga  orang nomer satu di Fleury. (sambung)