Senin, 22 Maret 2010

Ngawayang Dari Spanyol, Perancis sampai Wayang Multikultur.

Oleh Pandu Radea



             
          
            Udara dingin kota Paris langsung menyergap dan tak memberi kesempatan bagi Tim Wayang Ajen Indonesia yang kelelahan setelah terbang 17 jam lamanya untuk  menarik nafas lega. Pengukur suhu menunjukan angka 5 derajat celcius. Awal yang cukup merepotkan bagi tubuh-tubuh tropis untuk beradaftasi. Beruntung, 10 menit menunggu di luar Bandara Paris Airport, Bruno Sabalat dan Cyril Mary dengan mini bus nya langsung menjemput Tim Wayang Ajen yang terdiri dari Wawan Gunawan S.Sn (Dalang), Pandu Radea (Artistik/Pemusik), Dini Irma Damayanthi (Penari), Agus Rustandi (Pemusik), Karyana (Pemusik) dan Andris Adithra (Pimpro) untuk membawa anggota tim yang mulai kedinginan ketempat yang lebih hangat.
             
          Ini adalah lalampahan ke 24 kalinya Wayang Ajen melanglang dunia sejak pertama kali saba nagara pada tahun 2000 untuk menjalankan misi kebudayaan Indonesia. Dan di Tahun 2009 ini, sebelum terbang ke Perancis, Pada bulan April sampai Mei, Wayang Ajen juga tampil sukses dalam Festival International de Titeres de Canarias di Spanyol yang diikuti 5 negara Eropa. Saat itu, Tim Wayang Ajen hanya didukung oleh 4 orang seniman saja (Wawan Gunawan, Tavip Lampung, Dodong Kodir dan Pandu Radea).

Kendati demikian, pertunjukanWayang Ajen dianggap yang paling sukses. Hal itu diungkapkan oleh ketua panitia festival, Dominggo Borges dan Fransisco Brito yang menyatakan kepuasannya. Menurutnya 8 kali pertunjukan Wayang Ajen di Kepulauan Canarias (Los Realejos, El Sauzal, El Rossario, Santa Cruz de La Palma, Aguimes dan Madrid), baik itu di Gedung Kesenian maupun di panggung terbuka,  selalu dipenuhi oleh penonton. Adanya interaksi langsung antara penonton dan tokoh wayang (terutama tokoh panakawan) dinilai sangat menarik. Wawan Ajen sebagai dalang yang sarat pengalaman international, memang selalu mengajak penonton untuk berkomunikasi. Heureuy si Cepot terbukti ampuh untuk membuat penonton selalu tertawa.
  
Rupanya, dampak dari kesuksesan di Spanyol membuat UNESCO  melalui ANCT (Association Nationale Cultures et Traditions) Perancis sejak tanggal 4 sampai 18 Desember mengundang Wayang Ajen untuk mengenalkan seni wayang di Negeri Menara Eiffel  itu. Adalah Arsena Media Kreasi, event organiver Indonesia sekaligus mitra ANCT Perancis yang memfasilitasi keberangkatan Wayang Ajen kali ini.

Andris Adhitra, menilai bahwa Wayang Ajen memiliki track record pengalaman luar negeri yang sangat baik. Tercatat tahun 2002 Wayang Ajen tampil sebagai yang terbaik dalam “The Asia Erope Puppet Festival” di Bangkok.  Kemudian tahun 2008, Wayang Ajen meraih 2 medali Emas untuk katagori dalang terbaik dan Excellent composer ditambah satu medali perunggu untuk cerita lakon dalam even ”The First Marionette Festival” 16-24 Februari 2008 di Hanoi- Vietnam.
             
          Kali ini misi yang diusung adalah mengenalkan lebih luas lagi seni wayang Indonesia yang telah dikukuhkan oleh UNESCO dalam program Introducing the Wayang Puppets Theatre as a Masterpiece of Oral and Intangible Heritage. Memang sejak 7 November 2003, Seni Wayang Indonesia telah ditetapkan sebagai karya adiluhung sekaligus budaya Takbenda warisan manusia oleh UNESCO di Paris.

Dan mengenalkan seni Wayang Indonesia ke wilayah yang lebih luas merupakan program yang terus dilaksanakan oleh lembaga PBB ini.Untuk misi kali ini, selama 13 hari Wayang Ajen akan menyambangi 5 kota di Perancis yaitu, Orleans, Gannat, Verdun, St. Hilaire, dan Champs, dengan agenda kegiatan berupa workshop di 10 sekolah , 5 pagelaran wayang dengan lakon Ramayana, serta 5 kali pameran seni kerajinan Indonesia di masing-masing kota.
             
          Terbatasnya anggota tim yang berangkat membuat Wayang Ajen harus memformat pertunjukan menjadi minimalis. Selain lakon yang di ekstrak menjadi 1 jam lamannya, unsur musik dan waditranya pun harus disesuaikan dengan kapasitas yang terbatas, namun tidak menghilangkan esensi seni wayang Indonesia. Gending wayang yang biasanya dimainkan dengan gamelan, akhirnya diwakili dengan 1 set kecapi pelog dan salendro, kendang, rebana, goong, suling dan cymbal.
             
          Goong dan kendang dipinjam dari KBRI di Paris,  2 waditra ini tidak bisa dibawa dari Indonesia karena membebani jatah bagasi pesawat, termasuk juga terbatasnya  biaya transportasi . Yang terhitung utuh adalah perlengkapan dalang. Hal itu membuat Wawan Ajen sebagai dalang dapat memainkan fungsinya dengan baik. Adanya keterbatasan tersebut membuat pertunjukan menjadi tidak utuh. Namun, dengan konsep yang sudah dimatangkan di tanah air, setiap pertunjukan selalu sukses. Penonton mampu memahami dan menangkap essensi dari pertunjukan yang hanya didukung oleh 5 orang seniman saja.

Dan, gambaran kongkrit dan informasi yang sesungguhnya tentang pertunjukan wayang di Indonesia, selalu disampaikan baik sebelum acara dimulai maupun disaat audensi dengan penonton. Ditambah lagi, Tim Wayang Ajen selalu membagikan rekaman video pertunjukan seni wayang golek yang sesungghuhnya. Hal tersebut untuk mengindari kesalahan presepsi penonton tentang pertunjukan wayang  di Indonesia.
             
           Hal ini berbeda dengan konsep yang ditampilkan Wayang Ajen pada beberapa even festival di negara-negara sebelumnya, yang lebih menitikberatkan musik digital sebagai pengganti gending wayang. Maka di Perancis, irama gending secara live menjadi sebuah keharusan. Hal tersebut berkaitan dengan selera masyarakat perancis yang lebih menyukai sesuatu yang alamiah dan manual. Hal itu mungkin dilatar belakangi oleh kerinduan hal yang  natural dan manusiawi, mengingat kehidupan kota-kota besar di Perancis mulai disesaki dengan tekhnologi yang menggantikan peranan manusia.

Kota Demi Kota        
             
Daun-daun maple tampak berguguran. Berserakan akibat hembusan angin, dan tercecer sampai ke lorong-lorong jalan yang terbuat dari batu. saat ini adalah musim gugur atau dalam istilah Perancisnya disebut Automne yang berlangsung dari tanggal 21 September sampai tanggal 21 Desember. Setelah automne atau autum, baru kemudian masuk ke musim dingin atau hiver yang berakhir pada tanggal 20 maret.   

Kota yang pertama di jejaki adalah Fleury les Aubrais. Kota ini berada di wilayah Orleans. Tim Wayang Ajen langsung disambut hangat oleh para petinggi kota.  Seorang Pria tua bernama Peter Bauchet menyambut tim Wayang Ajen dengan ramahnya. Ternyata pria sederhana itu adalah walikota Fleury. Satu hal lagi yang berkesan selama di Fleury adalah saat kami diajak oleh panitia setempat untuk menjelajah sudut-sudut kota  Orleans yang banyak menyisakan peninggalan sejarah. 
            
            Menyusuri jalanan batu di pusat Orleans rasanya seperti terlempar ke jaman para ksatria, tatkala Perancis dicekam konflik peperangan seratus tahun  melawan Inggris dan Burgundi. Dalam sejarahnya, pada tahun 1429 hampir seluruh bagian utara dan barat daya Perancis telah dikuasai oleh Inggris dan Burgundi. Untuk menguasai Paris, Inggris melakukan pengepungan terhadap kota Orleans yang merupakan daerah strategis dan penghalang terakhir untuk menguasai jantung kerajaan Perancis yaitu Paris . Kota Orleans  ini terletak di dekat Sungai Loire.

Sukses melaksanakan 3 kali workshop dan menggelar pertunjukan perdana di Fleury, tim wayang ajen meluncur menuju Gannat yang berjarak  sekitar 200 km dari Fleury. Di kota inilah ANCT berkantor, yaitu di gedung Maison du Folklore no. 92. Jean Roche sebagai direktur ANCT dan Gedung Kasenian Gaston Riviere, bersama Maria Agnes dan semua staffnya menyambut ramah kedatangan tim Wayang Ajen.  Bruno Sabalat dan Didier pun ternyata seniman yang bekerja di gedung ini.  Mereka berdua adalah orang yang memandu tim Wayang Ajen selama di Perancis. Didier adalah seniman yang menggantikan Cyril Mary. Dirinya bertugas menjadi supir, juga merangkap sebagai  penata lighting dan sound untuk setiap pagelaran Wayang Ajen.

di Gannat suhu dingin semakin menusuk mendekati 0 derajat celcius, dan akhirnya salju mulai turun. Tidak heran, daerah ini berada di wilayah pegunungan Auvergne yang merupakan  pegunungan berapi satu-satunya di Perancis yang saat ini sudah tidak aktif lagi. Yang surprais adalah kehadiran Sarah Anais Andrieu. Gadis yang berasal dari daerah Lyon ini sangat pasih berbahasa Indonesia dan Sunda, termasuk heureuyna. Bahkan sangat mengenal seni Wayang Golek. Ternyata Sarah lama di Indonesia, dan belajar karawitan di STSI Bandung. Gadis berusia 27 tahun ini tengah menyelesaikan S3 dengan dasar penelitian wayang golek sunda di Jawa Barat.

Kehadiran Sarah untuk membantu Wayang Ajen. Membuat komunikasi antara panitia dan tim semakin mantap. Sarah yang humoris bercerita banyak tentang Perancis. saat di Fleury, Wayang Ajen  juga dibantu oleh salah seorang penonton yang fasih berbahasa Indonesia berama Sisi. Gadis ini ternyata pernah belajar wayang kulit di Solo setahun yang lalu.

Maison d Folklor adalah gedung kesenian yang banyak menyelenggarakan even international setiap tahunnya. Tahun 2008 rombongan kesenian Bali dan Papua pernah diundang juga ke Gannat untuk mengikuti festival International Tari Tradisi. Di Gedung inilah ANCT  menjalankan program-program kebudayaan di bawah kordinasi UNESCO.

4 hari 3 malam Tim Wayang Ajen tinggal di Maison d Folklor. Setiap hari Wayang Ajen menjalani kegiatan workshop ke berbagai daerah di kawasan kota Gannat. Dan Kegiatan workshot tersebut selalu disambut gembira oleh anak-anak. Mereka sangat menyukai bentuk dan karakter wayang golek. Selain wayang golek merekapun diajarkan beberapa gerakan tari  oleh Dini Irma dan Asih Mayasari. Salah satu pertunjukan yang mengesankan adalah ketika Tim Wayang Ajen tampil pada pesta  tradisi menyambut natal di Desa  Champs. Menurut Maria Agnes pertunjukan Wayang Ajen itu  sebagai hadiah bagi penduduk Champs yang sangat menghargai seni tradisi.

Pertunjukan Wayang Ajen berikutnya diselenggarakan pada hari terakhir kami tingal di Gannat . Ini merupakan sajian utuh yang disuguhkan kepada penonton yang telah mengikuti workshop di hari-hari sebelumnya. Pada pertunjukan yang juga dihadiri oleh tokoh-tokoh budaya di Gannat, Wayang Ajen mampu tampil maksimal.  Apalagi sebelum pertunjukan dimulai, Sarah Anais melakukan presentasi tentang Seni Wayang Golek Indonesia.

Dari sekian penonton yang hadir, Jean Roche adalah orang yang paling terkesan. Tokoh kebudayaan Perancis ini ternyata dapat memahami sampai nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam seni wayang golek. Seni Wayang sebagai bayangan dari kehidupan manusia. Jean memuji habis Wawan Ajen sebagai dalang yang mampu menghidupkan karakter setiap boneka. Menurutnya, Boneka yang dimainkan Wawan seolah bernafas. Gerak-geriknya betul-betul seperti manusia. Akhirnya Jean Roche menegaskan bahwa seni Wayang Golek  adalah seni boneka yang luar biasa.

Tanggal 10 Desember kami masih menikmati kota Gannat. Saya dan Wawan Ajen di ajak oleh Bruno ke kota Vichy untuk berjumpa dengan beberapa seniman boneka yang tergabung dalam kelompok Lye Fil Studio. Di tempat ini kami bertukar pikiran tentang perkembangan seni boneka masing-masing negara. Wawan Ajen pun berkolaborasi memainkan beberapa boneka yang dibuat oleh Peter UHL. bersama 2 orang rekannya, Bernadette Bataille dan Marie Laure. 

Peter ternyata mengenenal Wayang Golek. Ia mengetahuinya dari buku yang berisi data seni boneka se dunia.  Kolaborasi semakin menarik saat Wawan, Peter, dan Bernedit mencoba improvisasi dengan bahasa gerak, diiringi irama akordeon yang dimainkan Bruno Sabalat.

Pertunjukan terakhir Wayang Ajen adalah di kota Verdun. Berjarak 500 km dari Gannat. Verdun adalah kota bersejarah di Perancis yang pernah mengalami tragedi kemanusiaan akibat perang dunia pertama. Kota ini adalah bekas wilayah yang dijadikan kancah khurusetra antara Perancis dan German tahun 1916. selama 10 bulan, kota ini dihajar tanpa henti oleh berkecamuknya perang. Selama Perang Dunia I, total penggunanan senjata sekitar 40 juta peluru artileri dari kedua belah pihak selama pertempuran.

Menurut Nawakowski Victor, seniman Verdun yang memandu kami, Ada 10 desa yang hancur lebur. 600 ribu orang terluka dan 400 ribu meninggal. Yang meninggal tanpa diketahui identitanya juga mencapai ribuan. Semuanya terlihat saat Tim Wayang Ajen mengunjungi bekas-bekas lokasi pertempuran. Seperti Fort Douaumont,  Musium Memorial de Verdun, dan Monumen peringatan korban perang.

Suasana ngeri terbayang saat mengunjungi monumen korban perang, bangunan besar yang mirip kapal selam dengan menaranya yang tinggi ternyata berisi ratusan ribu tulang belulang manusia korban perang yang tidak dapat diidentifikasi lagi, bertumpuk seperti tumpukan kayu bakar. Sementara didepan monumen terhampar luas kompleks pemakaman korban perang lainnya.

Setelah melaksanakan serangkain workshop  di Verdun, maka tanggal 17 Desember kegiatan  Wayang Ajen ditutup dengan pementasan terakhir. Pementasan pamungkas ini merupakan pagelaran yang penontonya paling banyak. Usai pagelaran, Bruno Sabalat yang mewakili ANCT dan Panitia setempat kembali menyatakan kepuasannya.  Dan mereka berharap tahun depan Wayang Ajen dapat tampil kembali di Perancis.

Wayang Multikultur
             
          Wayang Ajen yang diciptakan oleh Wawan Gunawan dan Arthur S. Nalan tahun 1996 ini memiliki prinsip dinamis dalam mengembangkan kreatifitasnya. Berangkat dari pemahaman tradisi Wayang Golek sunda, kelompok ini selalu berusaha untuk menyelaraskan paradigma antara ketradisian dan kekinian. Wawan sebagai kreator dan dalang,  tidak fanatik untuk membatasi eksplorasi Wayang Ajen bergaul dengan beragam seni nusantara.
             
          Disisi lain, Wayang Ajen  pun kerap tampil dalam format ketradisiannya. Pertunjukan yang dilaksanakan 2 hari setelah pulang dari Perancis (19 Desember) pada even Festival Wayang Nusantara di Halaman Musium Fatahillah Jakarta, menjadi bukti bahwa Wayang Ajen tidak lari dari bahasa simbol yang menjadi kekuatan tradisi. Dihadapan ribuan penonton, Wayang Ajen dengan  lakon Kresna Gugah mampu menjerat penonton dengan pakem dan tetekon sampai akhir pagelaran.
            
           Dua minggu berikutnya, Wayang Ajen tampil di Padepokan Putro Pendowo Bekasi. Kali ini, Wayang Ajen berkolaborasi dengan Wayang Kulit Gagrak Surakarta. Dua dalang dari genre berbeda yaitu Wawan Ajen dan Bambang Asmoro bekerjasama memperkuat alur cerita Dasamuko Gugur (Ngalengko Brubuh) menjadi sebuah pertunjukan yang multukultur.
             
          Wayang Kulit dengan kekuatan bahasa simbolnya dan wayang golek dengan bahasa verbalnya bertransformasi menjadi pertunjukan yang menghibur dan mempersatukan penonton yang juga multi etnik. Warga Betawi dan Batak pun terwakili dengan tampilnya tarian Jalipongan (jali-jali Jaipongan) dan lomposisi lagu Sinandang Tulo.
             
          Dengan menciptakan suasana multikultur ini, sedikitnya memupus dikotomi seni wayang yang cenderung hanya bisa dinikmati dan dimiliki  kalangan Jawa dan Sunda saja. Hal ini bagi Wayang Ajen merupakan salah satu upaya untuk memperluas wilayah pengenalan  seni Wayang golek  agar dapat diterima di berbagai kultur masyarakat. 
             
           Kiprah Wayang Ajen baik di dunia International maupun di dalam negeri cenderung merupakan upaya mandiri yang tidak bergantung kepada lembaga maupun organisasi wayang yang ada di Indonesia. Wayang Ajen dapat dikatakan tumbuh dan berkembang dengan jalur kemandirian sehingga mampu menembus batas etnik, bangsa dan negara.

 Sedangkan disisi lain adanya organisasi wayang di Indonesia yang seharusnya mampu mengayomi berbagai jenis kesenian wayang, dirasa masih belum memberi dampak banyak bagi pertumbuhan dan perkembangannya. Masih adanya kecendrungan dikotomi terhadap seni wayang terlihat dari ketidakseimbangan perhatian terhadap seni wayang yang semakin terpinggirkan, seperti Wayang Kulit Cirebon, Wayang Kulit Indramayu atau Wayang Kulit Palembang, dengungnya semakin tidak terdengar. Kecendrungan adanya selera pribadi atau golongan yang mempengaruhi kebijakan nasional, membuat pengembangan seni wayang di Indonesia tidak menyentuh akar-akarnya

Demikian pula dengan pemerintah yang terkesan membiarkan pertumbuhan seni wayang seadanya. Bagi Wawan, hal itu menimbulkan sebuah pertanyaan besar, sejauh mana peranan pemerintah dan organisasi wayang dalam pertanggungjawaban terhadap bantuan dan penghargaan UNESCO untuk pelestarian dan pengembangan  wayang yang telah diproklamirkan sebagai masterpiece dunia ?

Penulis adalah Anggota Tim Wayang Ajen Indonesia.

1 komentar: