Selasa, 02 Februari 2010

KISAH WAYANG AJEN DI SPAIN (bag. 2)

Catatan Pandu Radea  dari Festival International de Titeres de Canarias

GELISAH DI PULAU YANG INDAH

Tiba di Madrid pukul 04.00 waktu Madrid (24/4). Di Madrid, waktu siang hari lebih panjang. Matahari terbenam  pukul  21.00 dan terbit pukul 07.30. Tim yang sudah kelelahan, kembali harus berurusan dengan bandara, menjalani pemeriksaan seperti biasanya.  Beruntung dari KBRI Madrid, Allen Simarmata (Kep.Bid. Penerangan) dan staffnya , Suyanto menyambut  kami di pintu bandara.  Langsung kami dijamu makan malam di sebuah resto bandara.  Resto ini ternyata berkonsep selfservis. Kembali penyakit katro no 2 menimpa saya. Menu makanan yang asing  membuat saya bingung dan harus berhati-hati karena daging babi bercampur disana sini. Satu-satunya yang aman adalah ikan dan telur.  

Wawan Ajen yang terbiasa ke luar negeri sangat menikmati salmon bakar yang diidam-idamkan sejak di pesawat.  Ternyata Tarif makan satu porsi mencapai 10 euro. Jika dirupiahkan maka sama dengan 150 ribu. Tentu hal itu harga yang mahal bagi mata uang Indonesia.  Berhubung perut kenyang, maka Tapiv (atas restu kami semua) membuang kantong berisi makanan yang dibawa dari pesawat seperti hot dog dan kue pasta. Padahal makanan tersebut jika dirupiahkan harganya mencapai 250 ribu. Awalnya, makanan tersebut sengaja kami kumpulkan dari jatah makan di pesawat, untuk mengantisipasi jika di Madrid sulit menemukan makanan gratis.  Ternyata, restu kami kepada Tapiv berbuah penyesalan. 5 jam berikutnya terbukti perut kami kelaparan, tanpa ada yang mentraktir lagi dan jangan harap akan menemukan warteg !

Dari Madrid kami terbang 3 jam lamanya ke Tenarife, sebuah pulau wisata yang sangat indah, seperti halnya Pulau Bali di Indonesia. Di Bandara Tenarife, kegelisahan mulai menyergap tatkala 5 kotak peralatan pagelaran yang berisi wayang, lampu, alat music, termasuk perlengkapan pribadi tidak ada. Padahal tiket untuk peralatan tersebut sejak dari Jakarta telah di bawa lewat bagasi pesawat sampai tenarife. Alhasil,  di tempat bagasi tinggal kami berempat yang termangu-mangu, berkali-kali kami menanyakan ke pihak Iberia Air lines, ternyata mereka tidak menerima paket barang kami yang di over dari Qatar Air lines.

Berjam-jam menunggu, paket yang kami tunggu tidak juga ada, maka terpaksa kami meluncur ke penginapan yang telah disediakan panita. Mr. Nikolas yang menjemput kami di bandara turut menyesalkan keteledoran pihak maskapai Iberia Air Lines. Kami disarankan untuk menunggu di hotel saja, dan   masalah tersebut menurut dia akan diurus oleh panitia. Akhirnya dengan perasaan ketar-ketir kami menunggu di hotel Sol Paraque San Antonio, hotel tua bintang lima yang didirikan tahun 1960. Perjalanan menuju hotel ditempuh  1 jam lamanya dari bandara Tenarife. Keindahan pulau Tenarife  semakin nyata saat matahari bersinar. Arsitektur bangunan maupun infra stuktur lainnya betul-betul mencerminkan sebagai objek pariwisata kelas dunia.  Perpaduan antara pantai, laut dan gunung.

Di Jalan tol yang lengang dan bersih tidak ada gerbang tol apalagi papan reklame seperti di Indonesia. Nyaris semua wilayah seperti Santa Cruz, Puerto De La Cruz, merupakan dearah yang dipenuhi hotel-hotel berbintang. Kabarnya banyak milyader eropa yang meninvestasikan uangnya di Tenerife dengan membangun hotel-hotel mewah. Menurut Nikolas, adanya papan reklame akan membahayakan keselamatan karena dinggap mengganggu konsentrasi pngemudi. Namun yang jelas, sebagai daerah yag dimakmurkan oleh jutaan turis asing yang masuk ke Teanerife setiap tahunnya membuat pemerintah setempat tidak mengizinkan infra strukturnya di pergunakan untuk beriklan. Hal ini, sekali lagi, kontadiktif dengan kondisi di Indonesia yang justru mengembang-biakan iklan di tempat-tempat umum, cape deeh !

Keindahan Tenarife, belum dapat kami nikmati sepenuhnya. Bpaket penting berisi alat-alat pertunjukan belum juga datang. Akhirnya untuk mengantisipasi kemungkinan buruk, kami berembug untuk menyiapkan rencana cadangan. Bagaimanapun juga, kami tidak ingin mengecewakan panitia yang sudah membiayai kami ke Spanyol. Dan jika pertunjukan perdana kami batal,maka sedikitnya akan mengurangi kredibilitas kami sebagai duta dari Indonesia.  kami tidak ingin itu terjadi. The show must go on. Harus dicari akal untuk mengatasi masalah itu. dan jurus pembukanya adalah bersikap tenang serta tidak panik. Dalam tekanan dan situasi yang terjepit, kami harus segera mendapatkan gagasan untuk menyelamatkan pertunjukan perdana kami nanti. (sambung)


1 komentar: