Rabu, 03 Februari 2010

KISAH WAYANG AJEN DI SPAIN (bag. 14)

Catatan Pandu Radea  dari Festival International de Titeres de Canarias

KOTA SERIBU PATUNG

            
          Jika di Los Realejos kami diberi kamar hotel yang mewah, maka di Aguimes kami diberi rumah klasik yang lengkap dengan perabotan modernnya. Luar Biasa. Panitia Festival rupanya betul-betul ingin memanjakan kami. Pertunjukan kami di Aguimes tanggal 3 Mei menjadi catatan tersendiri. Karena ini adalah pertunjukan yang jumlah penontonnya paling banyak. Seluruh kursi dari bawah sampai atas balkon terisi penuh.  Orang tua datang bersama anak-anaknya. Rupanya, kiprah Wayang Ajen di pertunjukan sebelumnya terdengar juga sampai Aguimes.

         Seperti biasa, pertunjukan Wayang Ajen kembali sukses menghibur penonton. Sekali lagi heureuy ala sunda yang di peragakan oleh para panakawan terbukti ampuh untuk memancing tawa. Selesai pentas, 3 hari 2 malam kami beristirahat. Selama itu, kebutuhan makan dan minum ditanggung oleh panitia di Tenerife. Jika waktunya makan kami tinggal masuk ke restoran El Oroval yang telah booking oleh panitia, tentu saja dengan pelayanan yang istimewa. 
         
          Satu yang unik dari kota-kota di kepulauan Canarias adalah tidak adanya kabel listrik atau telepon yang melintang di atas jalan. Di Aguimes jawaban itu kami temukan, rupanya jalur listrik, telepon dan air instalasinya dipasang di bawah tanah. Hal itu terlihat dari beberapa symbol yang tertera di plat besi yang ada di permukaan jalan kota yang rata-rata terbuat dari teras batu.
 
         Menurut kami, Aguimes adalah kota tua berlambang kadal (saya menduga kata Aguimes ini mungkin ada kesamaan dengan kata Iguana). Selama kami disana, jarang sekali melihat kerumunan atau lalu lalang manusia. Jalanan nyaris lengang, hanya satu dua kendaraan yang melintas. Di sekitar tempat kami tinggal terdapat bangunan besar gereja Iglesia de San Sebastian yang usianya sudah tua. Didepannya adalah taman kota yang asri. Dan ada 5 buah patung yang tersebar di sekitarnya. Rupanya, hampir  di setiap ruang publik berdiri patung-patung tembaga seukuran manusia. Jika dihitung diseluruh Aguimes jumlahnya bisa mencapai seribu lebih.

         Rumah-rumah penduduk cenderung berarsitektur minimalis dengan tembok-tembok yang ketebalannya bisa mencapai setengah meter. Penggunaan batu alam berbentuk kubus dengan ukuran mencapai 40 cm persegi tampak mendominasi dinding rumah. Umumnya interiornya rumah di kepulauan canarias memiliki sentuhan artistic yang tinggi. Pemiliknya begitu menghargai barang-barang kuno yang mereka warisi dari leluhurnya dan semuanya mereka pajang sebagai symbol-simbol tradisional.

         Rumah yang kami tempati rupanya bukan rumah sembarang rumah. Semenjak pertama kali datang, Tim Wayang Ajen merasakan aura aneh. Mendadak kami semua menjadi penakut. Hanya 1 malam kami bertahan di kamar masing-masing. Selanjutnya kami tidur ngariung di ruang tengah. Hal itu gara-gara Tavip Lampung menceritakan bahwa dirinya saat malam pertama melihat sosok anak perempuan berbaju putih tengah duduk di jendela.  Selain itu, kakinya kerap ditarik-tarik oleh sesuatu. Di Kamar Tapiv yang sekamar dengan Dodong Kodir memang ada ranjang boks untuk tidur anak kecil.

          Dongeng Dodong lain lagi. Saat dirinya tidur, kancing tangan jasnya yang terbuat dari tembaga dicopot dengan keras oleh sesuatu, sampai tanganya turut tersentak ke atas. Percaya atau tidak memang itu yang terjadi. Wawan Ajen sendiri selalu gelisah jika menjelang tidur. Hanya saya yang tidak mengalami masalah. Soalnya jika kepala sudah menyentuh bantal maka yang terjadi adalah mendengkur. Tanggal 5 kami meninggalkan Aguimes, terbang menuju Madrid.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar