Selasa, 02 Februari 2010

KISAH WAYANG AJEN DI SPAIN (bag. 7)

Catatan Pandu Radea  dari Festival International de Titeres de Canarias
SANTA CRUZ de LA PALMA



          Catatan menarik dari Festival International De Titeres de Canarian adalah soal kepanitiaan. Ternyata festival sebesar itu hanya ditangani oleh 3 orang saja. Domingo Borges sebagai director,  Fransisco Brito sebagai coordinator dan Filia Agrimanaki sebagai asisten. Bayangkan saja, selain mengurus akomodasi dan  transportasi setiap tim dari berbagai Negara, mereka juga mengurus berbagai keperluan pagelaran di 6 pulau atau 11 kota di Tenerife.  Tenerife merupakan wilayah setingkat provinsi yang mencakup 11 kota atau kabupaten yaitu Los Realejos, Guia De Isora, Los Lianos de Aridane, Teguese, Santa Cruz de La Palma, El Rosario, Aguiimes, La Olivia, San Sebastian de La Gomera, dan terakhir, Teide.

          System manajemen yang kuat dan sikap profesionalisme yang mereka tunjukan menjadi kunci utama yang membuat setiap pertunjukan berjalan lancar. Ternyata, jaringan kerja mereka mencakup ke berbagai wilayah. Tidak saja berkordinasi dengan pengelola setiap gedung pertunjukan yang ada di masing-masing kota, mereka pun betul-betul mempromosikan serta mempublikasikan seluruh pertunjukan melalui berbagai media masa. Hampir di spanjang jalan, selalu ada informasi festival yang dipasang di berbagai tempat. Trotoar jalan di seluruh wilayah Tenerife dan pulau lainnya memang menyediakan fasilitas informasi. Dan hebatnya, fasilitas informasi tersebut selain eksklusif juga hanya diperuntukan untuk kegiatan sosial, seni dan budaya. Tidak heran, Tenerife sebagai daerah wisata international, memiliki  berbagai even festival yang padat diselenggarakan setiap bulan.

           Dalam satu tahun tercatat, 35 even festival yang diselenggarakan secara rutin.  September menjadi bulan yang paling disibukan oleh kegiatan festival. Ada 8 festival dibulan ini, yaitu diantaranya Romeria de Nuestra Senora del Socorro, Fiestas del Santisimo Cristo, fiestas del Cristo de Los Dolores dll. Festival-festival tersebut umumnya adalah tradisi turun temurun bagi warga Tenerife yang merupakan kota bersejarah karena menurut mytologi, pulau-pulau di Tenerife merupakan gugusan kecil dari benua Atlantis yang hilang tenggelam. Boleh disebut,  kepulauan Tenerife merupakan benua atlantis yang tersisa.

          Sukses pentas perdana di Guia de Isora, hari berikutnya (28/04) kami terbang ke Santa Cruz de La Palma.  Tepatnya di gedung seni Teatro Chico de La Palma. Selama 1 jam terbang diangkasa, kepulauan Tenerife tampak sangat indah. Monica Vaquero direktur kebudayaan Teatro Chico, sudah menunggu di airport. Surprise. Ternyata kami manggung di gedung antik yang bergaya klasik. Ruang pertunjukan berbingkai proscenium ini tidak begitu besar, namun bertingkat tiga. Sehingga walaupun kecil, gedung kuno ini mampu menampung 500 orang penonton. Dan Seperti biasa kami hanya dilayani oleh 2 orang crew tekhnik.

          La Palma merupakan kota kecil yang sangat indah. Arsitektur bangunannya perpaduan klasik dan modern. Jalan-jalan di wilayah pemukiman menggunakan batu yang ditata rapih dan rata. Kendati sempit, hanya cukup untuk dilalui 2 mobil namun situasinya sangat tertib. Hanya jalan protokol yang menggunakan aspal. Pejalan kaki adalah prioritas utama, dan jika mereka menyebrang jalan, selalu di tempat yang bertanda zebra cross, kendati harus memutar. Sekali lagi  lampu merah dan Pak Polisi nyaris tidak terlihat. (sambung)


 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar