Selasa, 09 Februari 2010

WAYANG AJEN DI PERANCIS (1)

 [Pandu Radea : Menjelajah Perancis ]

MEMANAH EIFFEL




           Wawan Ajen rupanya mempunyai kebiasaan unik yang sering dilakukannya saat dirinya menyambangi sebuah Negara dalam menjalankan misi kebudayaan bersama Wayang Ajen. Yaitu memungut sebutir kerikil di saat kali kakinya pertama kali menginjak tanah. Menurutna, kerikil yang dipungut dan dibawanya pulang itu, akan membawanya kembali ke negeri atau benua yang dikunjunginya. “ini bukan mitos atau ritual. Ini hanya kebiasaan saya saja. Dan nyaris apa yang saya harapkan selalu dikabulkan yang maha kuasa.” Ujarnya sambil tersenyum saat menginjakan kakinya di Bandara Charles de Goulle Paris.

           Ini adalah ke empat kalinya Tim Wayang Ajen menyambangi Prancis. Saya, Dini, Agus dan Karyana selepas bebas dari pemeriksaan di Bandara yang ketat segera mencari kerikil di luar bandara. Namun satupun diantara kami tidak menemukannya. Andris Adithra, project officer dari Arsena Media Kreasi yang mengurusi kami selama di Perancis tidak memberikan kami kesempatan untuk berkeliaran. Dirinya langsung mengontak Bruno dan Cyril Mary, dua orang utusan dari ANCT (Asociation National for Culture and Traditional) untuk menjemput kami. Tak berapa lama orang yang kami tunggu akhirnya muncul. Sebelum menuju hotel kami berencana menyambangi kantor kedutaan Indonesia untuk bersilaturahmi sekaligus meminjam satu set kendang dan goong.

          Kedatangan kami yang masih pagi dan tepat di hari libur membuat staf kedutaan menyambut kami dengan sederhana. Sebelum pamit, mereka membekali kami dengan 10 dus nasi beserta lauknya pauknya yang khas Indonesia. Oh ya, Kami sampai di Paris jam 06.45 atau jam 12.00 waktu Indonesia. Selisihnya mundur 6 jam dari waktu di Indonesia. Dalam benak saya, selisih waktu tersebut mengandung arti bahwa usia saya saat berada di Paris mundur 6 jam lebih muda. Terlepas dari itungan iseng tersebut, yang pasti kota Paris membuat saya lebih muda. Ini adalah fakta yang tak bisa dibantah oleh siapapun. Agus dan Karyana sangat bersemangat dengan suasana kota yang elegan dan full modis abis-abisan.
           
          Ini adalah pengalaman mereka yang pertama. Dari celotehnya, rupanya mereka masih tidak percaya bahwa tanah yang mereka injak adalah Perancis yang sesungguhnya. Bukan Perancis “Parapatan Ciamis”. Sementara bagi Wawan Ajen dan Dini, Paris menjadi tempat yang indah untuk berbulan madu. Pasangan seniman yang telah dikaruniani dua orang putri ini, sejak awal menikah bercita-cita ingin berbulan madu di Paris. Setelah belasan tahun menunggu, kesempatan itu baru terwujud saat ini. Dan merekapun berencana untuk membuat anak lagi “Saya menginginkan anak laki-laki. Mudah-mudahan berhasil. Doain ya” kata Dini tersenyum simpul, sekilas matanya melirik Ki Dalang Ajen yang tampak memperhatikan sepasang remaja bule tengah berpelukan di seberang jalan.

           Saat kami tiba, Paris dalam suasana yang basah dan sembab oleh rintik hujan yang rutin mengguyur tiap hari. Diawal winter ini, salju memang belum turun. Namun suhu rata-rata sekitar 5 derajat celcius. Untung pakaian tempur penahan dingin yang kami pakai berfungsi dengan baik. Di kamar hotel lebih hangat lagi karena tersedia pemanas ruangan. kontraksi otot akibat drastisnya perbedaan suhu di Indonesia dan Perancis belum kami rasakan.


           Menjelang sore, kami semakin gelisah. Keinginan untuk menyambangi salah objek yang merupakan satu dari 7 keajaiban dunia semakin kuat. Beberapa warga Negara Indonesia yang merupakan anggota dari komunitas Liga Tari Universitas Indonesia sore itu mengunjungi kami. Mereka adalah Herman Sitepu, Asih Mayasari, dan Yuliana Moreno bersama 2 orang lainnya. keinginan menjelajah kota Paris makin membara. lelah letih dan suntuk selama 18 jam mengapung di udara tidak mampu mengalahkan suasana euforia kota Paris yang romantis menggoda. Bertapa tidak, menjelang natal dan menyambut tahun baru 2010 ini, Paris semakin cantik.


          Herman Sitepu yang sudah tinggal selama 7 tahun di Paris segera mengambil komando untuk menggiring kami makan malam direstoran Delicia yang menyediakan kebab dan sandwicherie paninis sebagai menu utamanya. Di restoran ini kami masih bisa mencicipi nasi, kentang goreng dan ayam panggang di campur salad dan saus tomat. Walau rasa nasinya berbau sedikit apek namun taste Indonesian masih kami rasakan. Perut pun kenyang dan suhu udara semakin rendah. Enaknya adalah tidur. Namun kegelisahan kami tambah kuat. Andris yang melihat semakin berkobarnya semangat touris dalam tim Wayang Ajen, akirnya berkata : lets go to Eiffel !  (Bersambung)
dimuat di HU. Priangan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar