Selasa, 02 Februari 2010

KISAH WAYANG AJEN DI SPAIN (bag. 6)

Catatan Pandu Radea  dari Festival International de Titeres de Canarias

PENTAS PERDANA


          Kota Tenarife masih diselimuti udara dingin. Guia de Isora merupakan kota pertama bagi pentas Wayang Ajen. Usai breakfast  kami langsung menunggu kendaraan yang akan menjemput tim ke Auditovui Guia de Isora, gedung pertunjukan tempat kami pentas.  Akhirnya tepat pukul 13.00 kami sudah meluncur ke lokasi. Jika sebelumnya kami hanya mengenal wilayah pesisir  Tenerife yang dikelilingi samudra atlantic,  maka kali ini kami menyusuri punggung  gunung  Teide yang tingginya mencapai 3.718 m. Jalan yang dilalui melingkar-lingkar dan cukup terjal. Semakin tinggi, rumah-rumah terlihat kecil bagai kotak korek api. Nyaris sepanjang jalan bunga-bunga liar bermekaran. jika musim dingin tempat ini nyaris seluruhnya diselimuti salju.
 
          Pemandangan yang menakjubkan membuat perjalanan 3 jam lamanya menjadi tak terasa. Tiba di Guia de Isora waktu menunjukan pukul 16.00 lewat.  Masih ada 3 jam lagi untuk persiapan pertunjukan. Angel Brito direktur tekhnik auditovui, yang menyambut dengan keramahannya langsung  megirim tim ke sebuah restoran. Bagi saya, urusan restoran adalah sesuatu yang membuat dilematis. Disatu sisi, menyangkut kebutuhan perut, dan disisi lain adalah menu eropa yang tidak cocok dengan keinginan perut.

          Sehingga selama di Spanyol, satu-satunya menu yang dianggap layak bagi perut saya adalah steak ayam yang dicampur dengan salad yang terdiri dari irisan tomat, bawang Bombay, kol, dan cabe paprika, diolesi dengan minyak zaitun.  mencoba menu lainnya selain rasanya tidak karuan, juga beresiko tinggi disuguhi daging babi. Porsi makanan pun sangat banyak. Jika di Indonesia , maka  1 porsi akan cukup untuk 3 orang. Dan biasanya ada 3 sesi untuk acara makan bagi warga spanyol yaitu makanan pembuka, utama dan penutup.
 
 
          Kami memiliki waktu beberapa jam untuk menikmati suasana kota yang cukup tenang. setelah makan, kami berjalan-jalan menyusuri trotoar yang lengang dan bersih. kejutan menarik terpampang  saat mata kami memperhatikan spanduk-spanduk yang ditemui di jalur trotoar. ternyata, spanduk itu didesain dengan gambar wayang kulit dari Indonesia  Tentu saja ini surprise yang menyenangkan. kami tak pernah membayangkan jika di tempat  ini, yang  jaraknya ribuan km jauhnya dari Indonesia, tiba-tiba menemukan sesuatu yang kami akrabi.
          
          Lagi-lagi ini kerja profesional panitia festival. Mereka betul-betul mempublikasikan setiap pertunjukan yang akan digelar di berbagai kota.  "Wah, Ini gambar wayang lho. Wayang kulit Indonesia." pekik Tavip. sambil memegang ujung spanduk. kami segera mengerubungi spanduk itu. rupanya prilaku kami yang sedikit heboh itu manrik perhatian 2 orang warga yang tengah melintas di trotoar. mereka memperhatikan kami dengan heran. mungkin disangkanya kami akan menarik spanduk itu. supaya tidak terjadi salah presepsi, kami jelaskan bahwa kami adalah titeros (dalang) yang akan tampil dalam festival de Titeres di kotanya itu. Dan gambar wayang itu adalah puppet yang akan kami mainkan nanti. Danakhirnya, kami pun dimintai tandatangan.
 
         Selama kami memasang peralatan, kebutuhan panggung berbentuk proscenium,  seperti lighting dan sound hanya ditangani oleh dua orang. hal ini tentu menjadi pengalaman penting. Karena Di Indonesia biasanya stage crew rata-rata 4 orang. salah satu sebabnya adalah sarana gedung de Isora yang sangat layak sehingga pekerjaan dapat ditangani dengan mudah.

          Pentas perdana Wayang Ajen yang menampilkan lakon Sinta Obong ternyata mendapat respon yang sangat baik dari masyarakat setempat  maupun dari  turis eropa yang malam itu sengaja datang dari beberapa kota lainnya di Tenarife. idiom gerak, gambar dan musik yang digarap secara artistic ternyata menjadi bahasa universal yang mampu diapresiasi oleh penonton. Akhirnya setiap adegan Lakon sinta Obong yang berdurasi 1 jam lamanya selalu di respon dengan aplaus berkepanjangan.
 
          Wawan Gunawan, selaku dalang juga menjalin komunikasi dengan menyelipkan dialog-dialog berbahasa spanyol, terutama saat adegan goro-goro yang menampilkan kolaborasi si Cepot dengan wayang matador. Tak ayal, si cepot yang mengaku sebagai Lionel Meesi (striker FC. Barcelona), disambut gelak tawa penonton. Apalagi saat si cepot menjadi matador, toro (banteng) tidak berhenti mengejar si Cepot karena melihat wajahnya yang berwarna merah, membuat penonton selalu terbahak.
 
          Demikian pula kemampuan Dodong Kodir sebagai seniman nalaktak yang mengeksplorasi sampah menjadi alat music mampu menunjukan kelasnya dengan menampilkan efek-efek bunyi yang tidak biasa. Beberapa kali penonton terperangah mendengar suara halilintar, angin dan ombak dari alat sederhana yang dirakitnya dari sampah. Uniknya masing-masing alat musik ciptaannya selalu berakhiran “dong” ternyata itu berarti Dodong, seperti Alpedong (alat petik dodong), Tornadong, Jiramedong (Hiji ge rame mun ku Dodong), dll. Walau dirakit dari sampah nilai artistiknya tidak kalah dari buatan ahli cendramata.
 

          Kekuatan artistic untuk memperkuat lakon Sinta Obong semakin terjewantahkan oleh bahasa gambar yang ditampilkan Tavip Lampung. Disinilah fungsi Gambar Motekar yang diciptakan oleh Herry Dim dan Tavip mampu menjadi benang merah dalam konteks visual pertunjukan Wayang Ajen.  Kemasan artistic gambar motekar yang juga memainkan kedalaman ruang mampu mengantarkan imaginasi penonton untuk larut dalam kisah yang tengah disampaikan. Bahkan bahasa gambar motekar ( gamut)  ini memiliki dimensi presfektif  yang langsung dirasakan oleh penonton karena ditampilkan dalam layar putih 6 x 4 meter.

          Saya pun mengemas setting panggung secara minimalis namun dampaknya diharapkan maksimal, tanpa banyak symbol. Dengan  hanya membentangkan beberapa kain warna hitam dan putih untuk mengapit jagat wayang.   Selain itu saya juga memainkan music gending digital secara manual untuk menjembatani surupan dalang dengan irama gamelan, Mencoba membangun permainan dan karakter wayang golek yang dimainkan Wawan Guanawan agar tetap kuat. Sebetulnya  tugas saya selain menjadi piñata artistic dan programmer music, juga menjadi fotografer, cameramen, music manual dan catrik.

          Beberapa pekerjaan  nyaris tidak mungkin dilaksanakan, mengingat selama pertunjukan saya terkonsentrasi di depan laptop. Satu-satunya cara adalah mengerjakan pemotretan di awal dan diakhir pertunjukan. Sedangkan untuk kamera, sudah di stanby kan di tempat yang ideal. Saya tinggal menyuruh crew gedung untuk merekam manakala pertunjukan dimulai. Peran sebagai catrikpun tidak terlalu maksimal. Sedangkan untuk  music manual, saya kerjakan disela-sela adegan yang tidak membutuhkan iringan dari music digital.


          Menurut Angel Brito, direktur tekhnik  gedung kesenianAuditovui Guia De Isora, kemampuan 4 orang  yang mampu meramu pertunjukan tanpa kehilangan karakter dasar seni wayang menjadi terobosan baru yang patut diacungi jempol.  Rupanya Angel telah membaca literatur tentang Seni Wayag Indonesia. Penonton tidak menyangka bahwa pertunjukan Wayang Ajen dalam Festival de Titeres de Canarias di Spanyol yang berlangsung sampai tanggal 5 Mei 2009 ini hanya didukung oleh 4 orang. sehingga usai pertunjukan  nyaris semua penonton menyerbu panggung untuk meilhat property dan system kerja yang dikemas oleh tim Wayang Ajen.
 
          "Wayang Ajen mampu memuaskan penonton dan Wayang Ajen merupakan tim kesenian pertama dari Indonesia bahkan dari asia yang tampil di Guia De Isora." Ujar Angel seusai pagelaran kepada kami di ruang makan. (sambung)
 

2 komentar:

  1. Thanks to Wayang Ajen

    BalasHapus
  2. sampurasun.
    katanya mau berangkat ke Korea?

    BalasHapus