Selasa, 02 Februari 2010

KISAH WAYANG AJEN DI SPAIN (bag. 3)


Catatan Pandu Radea  dari Festival International de Titeres de Canarias


TAK ADA ROTAN DAUN PUN JADI !

Masalah yang membenam dalam benak adalah bahwa kami tidak akan bisa pentas jika peralatan kami tidak segera ditemukan. Sejak bangun tidur Wawan Ajen terus melakukan kontak ke berbagai pihak. Parahnya lagi, selama di hotel, kami tidak di sertai oleh guide  yang disediakan panitia, tentu saja kondisi tersebut membuat kami sakaparan-paran.  Kendati fasilitas hotel sangat berkelas, ditambah akomodasi maupun konsumsi ditanggung panitia, tetap saja membuat kami kebingungan. Pasalnya, diantara kami berempat, hanya saya yang memiliki mata uang Euro. Itupun hanya 60 euro. 

Jelas tidak akan cukup untuk menutupi kepentingan darurat.  Kendati kondisi hotel refresentatif namun kelemahanya tidak ada jaringan internet bebas (wi-fi). Yang ada justru warnet local yang dikelola hotel. Dan untuk ngenet setengah jam lamanya menghabiskan 5 euro (1 euro jika dirupiahkan sekitar 15 ribu). Padahal hubungan melalui internet sangat kami butuhkan untuk mengecek dimana keberadaan peralatan kami.

 Sembari menunggu infomasi, akhirnya kami membuat rencana darurat. Jangan sampai kami gagal manggung. Selain membuat kecewa panitia juga untuk tetap menjaga nama baik Indonesia. Berawal dari keisengan saya yang selalu tertarik dengan daun kering. Akhirnya saya kumpulkan beberapa helai daun untuk membuat alat music sederhana, akhirnya, Wawan Ajen melihat beberapa jenis daun dapat dibuat wayang. Dan timbul ide membuat wayang dari daun kering. 

Wawan Ajen yang memiliki keterampilan membuat wayang dari ilalang segera bereksperimen membuat tokoh Rahwana dan hanoman. Sedangkan saya membuat Rama dan Sinta. Tavif membuat Jatayu dan Dodong Kodir sibuk kesana kemari mencari sampah untuk didaur ulang menjadi Alat music. Yang sukses bereksperiman hanya bertiga. Sementara Dodong Kodir terpaksa menghentikan upayanya. Bukannya  tidak mampu, justru kelebihan seniman tua ini adalah mengolah sampah apapun menjadi alat music. Dodong terpaksa menyerah karena di sekitar hotel bahkan sampai pinggir jalan raya, tidak ada sampah yang ditemukan.

Inilah kontradiktif kedua antara Tenarife dan kota-kota wisata di Indonesia. Yaitu tentang Sampah. Di Tenarife tidak ada sampah yang berserakan. Sedangkan di Indonesia, sampah sangat merajalela.  Entah dimana para petugas sampah di Tenarife itu menimbun limbah manusia. Jika saja Dodong Kodir bisa berbahasa spanyol tentu masalah itu bisa selesai dengan bertanya kepada petugas hotel. Sayangnya bahasa Inggris petugas hotel umumnya jelek (apalagi kami) sehingga dialogpun sering salah tafsir. Hasilnya tentu saja miss understanding.

untungnya, Dodong segera mengalihkan sampah dengan sampah pohon. Beberapa alat music dapat diciptakan. Kendatii sederhana, namun untuk sementara dianggap dapat mewakili ketukan wayang.  Semua kegiatan kami, dilakukan di jembatan kecil yang menghubungkan setiap ruangan dan bangunan hotel. otomatis, gerak-gerik kami menjdi perhatian tamu-tamu lainnya. Apalagi kami selalu menyapa tamu yang lewat dengan kata “Ola” yang membuat mereka tersenyum dengan keramahan kami, dan akhirnya memperhatikan kegiatan kami. 

Saat mereka melihat Wawan Ajen memainkan wayang daunditingkahi suara aneh dari alat music dodong kodir, mereka selalu terbengong-bengong. Baru setelah itu tersenyum kemudian memuji. Kami selalu menyebutkan bahwa kami adalah seniman Indonesia yang akan mengikuti festival di Gran Canary. Dan merekapun kembali ber-good-good ria. Sayangnya diantara sekian tamu yang memuji, tidak ada satupun yang berminat untuk membeli wayang daun kerasi dadakan kami ini dengan Euro. Padahal Wayang Daun yang kami bikin adalah karya mahal karena dibuat di Spanyol. (sambung)




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar