Selasa, 02 Februari 2010

KISAH WAYANG AJEN DI SPAIN (bag. 10)

Catatan Pandu Radea  dari Festival International de Titeres de Canarias
 
THE QUATRO



          Pertunjukan kedua di hari yang sama dilaksanakan di gedung teater Casa de La Cultura yang berada di pusat kota Los Realejos. 3 jam lamanya  perjalanan dari El Rosario. Gedung ini merupakan pusat dari kegiatan kepanitiaan Festival. Disinilah Domingo Borges berkantor sehari-hari.  Dan ternyata nama Wayang Ajen sudah dikenal sebelumnnya oleh masyarakat setempat, karena semenjak hari pertama kami di Tenerif, panitia meminta sekaligus menyediakan tempat eksklusif bagi Wayang Ajen untuk memamerkan 15 koleksi wayang goleknya. 

          Pameran tersebut terasa meriah saat masyarakat tahu kami akan main pada hari itu. 2 jam sebelum pertunjukan dimulai, tangga selasar gedung pertunjukan yang menjadi areal pameran telah dipenuhi warga yang akan menonton sekaligus menanyakan perihal  wayang golek. Tentang bahan baku, cara membuatnya,  tekhnik pewarnaan, kostum wayang, karakter wayang, cerita wayang, cara memainkan wayang, intrumen musik yang dipergunakan, dan lain sebagainya. Inilah bentuk promosi kami berikutnya tentang seni tradisi Indonesia. 

          Kami ceritakan bahwa apa yang akan ditampilkan nanti hanya beberapa persen saja dari atribut pertunjukan Wayang Ajen sebenarnya. Dan bagi yang penasaran kami himbau untuk datang ke Indonesia.
Kemasan Wayang Ajen ke Spanyol merupakan kolaborasi antara seni tradisi Wayang golek  dengan Gambar Motekar sebagai seni pengembangan wayang kulit. Instrumen musiknya selain menggunakan gending seperti yang dicampur dengan berbagai music tradisi beberapa suku di Indonesia,  juga mengeksplorasi bunyi dan efek suasana dari alat-alat music berbahan sampah yang diciptakan Dodong Kodir. Kendati gending wayang merupakan musik digital computer, namun tetap saja dimainkan secara manual, terpisah-pisah. Saya yang bertindak sebagai program music harus mewaspadai terjadinya salah piih gendingan. Karena jika itu terjadi, akan berdampak fatal bagi dalang.

          Formasi 4 orang yang berangkat ke Spanyol ini merupakan pilihan yang sangat minimalis namun  menurut Domingo pertunjukannya sangat maksimal (minimax). Umumnya panitia Festival di tingkat international tidak mau menanggung resiko mengundang group yang personelnya melibihi 5 orang. selain mahalnya beban biaya (kecuali memiliki sponsor yang  menanggung biaya tertentu) juga dianggap tidak efektif, seandainya group yang tampil membawa peralatan music yang beratnya melebihi 100 kg, apalagi dalam festival yang padat jadwalnya dan tampil spartan di beberapa kota  tentunya  akan memakan banyak waktu. kami berempat oleh Fransisco akhirnya dijuluki The Quatro.
 
          Jika Wayang Ajen membawa  nayaga kumplit termasuk gamelan maka berapa ratus juta biaya yang harus dikeluarkan. Seluruh tim yang mengikuti festival ini rata-rata berjumlah 3 orang. bahkan Ayusaya Puppet Theatre (Grecia) hanya Stasis Markopulos yang tampil seorang diri. Dia bertindak sebagai dalang, pemusik, artistic, stage crew, sekaligus sutradara. Peralatan yang dibawanya tidak melebihi 30 kg. Sedangkan total peralatan yang  kami bawa mencapai 83  kg (sebelumnya mencapai 100 kg). bahkan untuk lebih ringan lagi, Wawan Ajen sampai terpaksa membelah semua kepala wayang golek secara dibobok oleh Ahmad Pramuja dan Mang Cawang ahli pembuat wayang golek untuk membuat rongga di dalamnya. Hal itu jelas sangat meringankan beban yang kami bawa.

          Satu jam menjelang pertunjukan panitia menghentikan audensi pameran,karena kami harus segera menyiapkan setting panggung. Tidak sampai setengah jam, semuanya telah selesai. Perlengakapan yang kami bawa dari Indonesia memang sangat fleksibel, jagat wayang sengaja dibuat khusus sehingga tidak memerlukan pohon pisang. Padahal ini menjadi sesuatu yang menarik pohon pisang di Tenerife sangat melimpah terutama di Los Realejos.  Hektaran kebun pisang jenis pisang ambon terhampar di pinggir jalan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar